Asosiasi Persepatuan Ungkap Penyebab Tutupnya Pabrik Sepatu Bata (BATA)
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) angkat bicara terkait dengan dihentikannya operasional pabrik PT Sepatu Bata Tbk (BATA) yang sempat viral di media sosial
Pabrik yang berdiri sejak 1994 harus berhenti beroperasi karena terus merugi. Kapasitas produksinya tidak sebanding dengan permintaan yang terus menurun dari tahun ke tahun.
Direktur Eksekutif Aprisindo Firman Bakri mengaku belum mendapatkan penjelasan secara detail dari manajemen Bata terkait penutupan pabrik tersebut. Namun yang jelas, bisnis Bata di Indonesia itu masih tetap berjalan.
Baca Juga
Terus Merugi, Bata Tutup Pabrik di Purwakarta Setelah 30 Tahun Beroperasi
“Saat ini, bisnis Bata di Indonesia masih jalan. Khususnya untuk yg bidang ritailnya. Selain produksi di Purwakarta, Bata juga masih memiliki skema bisnis berupa order maklun ke pabrik lokal di Indonesia untuk brand mereka,” katanya ketika dihubungi oleh InvestorTrust pada Minggu, (5/5/2024).
Menurut Firman, produk alas kaki yang diproduksi Bata di Indonesia tidak hanya untuk memenuhi pasar dalam negeri. Sebagian dari produk tersebut diekspor ke sejumlah negara dengan berbagai merek dan segmen pasar berbeda.
Terkait dengan dihentikannya operasional pabrik Bata di Purwakarta akibat terus merugi, menurut Firman bisa dikaitkan dengan sejumlah faktor. Tak terkecuali aturan upah minimum pekerja yang dari tahun ke tahun mengalami kenaikan.
“Rugi ini bisa dikaitkan dengan order menurun dan biaya yang tidak seimbang dengan pemasukan misalnya terkait dengan UMK [Upah Minimum Kota/Kabupaten] tinggi dan harga jual yang tidak seimbang,” paparnya.
Baca Juga
Laba Emiten Low Tuck Kwong (MYOH) Tumbuh 31% Jadi Rp 281 Miliar Tahun 2023
Secara umum, industri alas kaki di dalam negeri sejak pandemi Covid-19 pada 2020 menurut Firman belum kembali pulih. Bahkan, pada 2024 pihaknya mencatat adanya penurunan permintaan yang signifikan akibat sejumlah faktor.
“Apalagi ditahun 2024 ini sejumlah tantangan mulai dari inflasi pangan dan lain-lain. Beberapa brand pada lebaran kemarin untuk segmen menengah dan menengah ke bawah mengalami penurunan dibanding untuk periode yang sama di 2023 lalu,” ungkapnya.
Sebelumnya, melalui Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen Bata mengumumkan keputusan untuk menghentikan operasional pabrik di Purwakarta.
Dihentikannya operasional pabrik tersebut dilakukan berdasarkan Keputusan Direksi pada Selasa (30/4/2024) yang sebelumnya disetujui berdasarkan persetujuan dari Keputusan Dewan Komisaris pada Senin, (29/4/2024).
“Dengan adanya keputusan ini, maka perusahaan tidak dapat melanjutkan produksi di pabrik Purwakarta," kata Director & Corporate Secretary Bata Hatta Tutuko melalui Keterbukaan Informasi BEI, dikutip Minggu (5/5/2024).
Hatta mengungkapkan pihaknya tidak dapat melanjutkan produksi di pabrik Purwakarta karena permintaan pelanggan terhadap jenis produk yang dibuat di pabrik tersebut terus menurun. Kapasitas produksi pabrik tersebut melebihi kebutuhan yang bisa diperoleh secara berkelanjutan dari pemasok lokal di Indonesia.
Dia juga menegaskan keputusan untuk menghentikan operasional pabrik di Purwakarta sudah melalui evaluasi menyeluruh dan kesepakatan pihak-pihak terkait. Termasuk mengefektifkan operasional Bata yang harus menghadapi ketatnya persaingan dan menurunnya permintaan konsumen.

