Nasib Malang Sepatu Bata (BATA), Jual Gedung Hingga Tutup Pabrik
JAKARTA, investortrust.id - Jenama sepatu legendaris Bata menjadi sorotan setelah kabar penutupan pabriknya yang sudah beroperasi selama 30 tahun di Purwakarta, Jawa Barat.
Pabrik tersebut terpaksa ditutup lantaran PT Sepatu Bata Tbk (BATA) terus menerus mengalami kerugian akibat turunnya permintaan. Alih-alih memberikan keuntungan, pabrik tersebut justru menjadi beban lantaran biaya operasionalnya kelewat tinggi dibandingkan pendapatan perusahaan.
Untuk menekan kerugian, manajemen Bata menjual aset-asetnya. Termasuk Gedung Graha Bata di Jalan TB Simatupang Nomor 28, Cilandak, Jakarta Selatan pada Maret 2024 lalu. Gedung tersebut dilepas ke PT Simatupang Jaya Realty dengan nilai Rp64 miliar. Namun, usaha tersebut belum membuat Bata lepas dari jeratan utang.
Utang jangka pendek Bata per 30 September 2023 atau kuartal III-2023 tercatat mencapai Rp 375,52 miliar, naik dari Rp 358,83 miliar pada periode yang sama tahun 2022 (year on year/YoY). Sedangkan total liabilitasnya Rp 445,06 miliar per 30 September 2023.
Apa yang dialami Bata saat ini berbanding terbalik dengan situasi beberapa dekade lalu. Merek asal Ceko ini berjaya di Tanah Air pada dekade 1980-an sampai awal dekade 2000-an.
Sepatu dan sandal Bata digandrungi masyarakat lantaran kualitasnya baik dan harganya cukup terjangkau. Bahkan, sepatu Bata sudah seperti sepatu wajib bagi siswa-siswi sekolah kala itu.
Selain Bata, emiten alas kaki ini juga memasarkan produknya dengan merek Marie Claire, Comfit, Power, Bubblegummers, North Star, B-First, dan Weinbrenner. Produk-produk tersebut dipasarkan di 435 gerai Bata dan toko-toko lainnya di seluruh Indonesia.
Baca Juga
Asosiasi Persepatuan Ungkap Penyebab Tutupnya Pabrik Sepatu Bata (BATA)
Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri mengatakan Bata punya sejarah panjang di industri alas kaki Tanah Air. Bata ternyata juga tidak hanya memasarkan produk buatan Indonesia di dalam negeri.
“Bata adalah brand sepatu yang keberadaannya sudah cukup lama, termasuk di pasar Indonesia. Bata sendiri selain memiliki pasar untuk dalam negeri Indonesia juga memiliki pasar ekspor,” katanya kepada Investortrust, Minggu (5/5/2024).
Mengutip situs resmi Bata, kehadiran merek tersebut di Tanah Air dimulai pada 1931. Ketika itu, sepatu Bata masih diimpor oleh NV Nederlandsch Indische Schoenhandel Maatschappij Bata sebelum akhirnya diproduksi di dalam negeri pada 1940.
Pabrik Bata kemudian didirikan di Kalibata, Jakarta Selatan pada 1939 dan mulai beroperasi pada 1940. Seiring berjalannya Waktu, Bata makin sukses di Indonesia hingga akhirnya melantai di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada 1982 dengan sandi BATA.
Baca Juga
Terus Merugi, Bata Tutup Pabrik di Purwakarta Setelah 30 Tahun Beroperasi
Pada 1994, sejalan dengan tingginya permintaan pasar, Bata mulai mengoperasikan pabriknya di Purwakarta. Pabrik yang akhirnya ditutup itu memproduksi 1,15 juta pasang sepatu dan sandal sepanjang 2023, turun drastis dibandingkan 2022 sebanyak 1,57 juta pasang.
Setelah penghentian operasional pabriknya di Purwakarta, produk Bata yang dijual di Indonesia akan diproduksi oleh pihak ketiga di dalam negeri. Namun, tidak menutup kemungkinan akan diimpor dari fasilitas produksinya di negara lain.
"Saat ini bisnis Bata di Indonesia masih jalan. Khususnya untuk yg bidang ritelnya. Selain produksi di Purwakarta, Bata juga masih memiliki skema bisnis berupa order maklun ke pabrik lokal Indonesia untuk brand mereka," ungkap Firman.
Bata merupakan produsen alas kaki yang didirikan oleh tiga bersaudara asal Ceko, yakni Tomas Bata, Anna Bata, dan Antonin Bata dengan nama T.& A Bata Shoe Company. Bata hadir di 50 negara dan memiliki pabrik di 26 negara termasuk Indonesia.

