Menkominfo Ungkap Nasib Transformasi Digital di Era Prabowo-Gibran
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi buka-bukaan soal bagaimana transformasi digital akan berjalan pada periode kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (Prabowo-Gibran) mendatang.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Projo itu mengatakan kepemimpinan Prabowo-Gibran akan menjalankan transformasi digital secara berkelanjutan dari apa yang telah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dalam dua periode kepemimpinannya.
Menurut Budi Arie, transformasi digital merupakan bagian penting agar Indonesia bisa melompat menjadi negara maju. Hal tersebut sudah disampaikan oleh Jokowi saat bertemu dengan Chief Executive Officer (CEO) Microsoft Corp Satya Nadella pada Selasa (30/4/2024) lalu.
Baca Juga
Microsoft Investasi Rp 27,65 Triliun, Mau Kembangkan Talenta Digital AI di Indonesia
"Pasti ini kan keniscayaan, infrastruktur digital, pemerintahan digital, ekonomi digital, dan masyarakat digital," katanya Ketika ditemui di Depok, Jawa Barat, Kamis (2/5/2024).
Adapun, untuk implementasinya Budi Arie menyebut tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Semuanya harus dilakukan secara beriringan atau paralel, tak terkecuali memperluas jaringan internet cepat hingga ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Isu kecepatan internet di satu sisi, [tetapi] isu coverage ini juga penting. Kita kan membangun itu Indonesia sentris. Kalau di Jakarta, di daerah-daerah di Jawa kan relatif sinyalnya sudah bagus. Kalau daerah lainnya seperti Indonesia bagian timur itu perlu perhatian," tuturnya.
Budi Arie menambahkan upaya tersebut juga akan mendukung hilirisasi digital yang disebutkan oleh Gibran dalam penampilannya di Debat Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) pada 22 Desember 2023 lalu. "Hilirisasi digital itu kita memanfaatkan digitalisasi untuk hal-hal produktif dan advance, seperti itu," tegasnya.
Baca Juga
Literasi Digital Rendah, Jaringan Internet Cepat Tak Dimanfaatkan Secara Optimal
Hilirisasi digital yang disebut oleh Gibran sempat membingungkan banyak pihak, khususnya kalangan akademisi. Istilah tersebut tidak pernah digunakan dalam dunia akademik dan dibuat-buat oleh putra sulung Jokowi itu.
"Kami akan lanjutkan hilirisasi. Bukan hanya hilirisasi tambang saja, tapi juga hilirisasi pertanian, hilirisasi perikanan, hilirisasi digital, dan lain-lain
Gibran sempat menjelaskan bahwa hilirisasi digital akan diimplementasikan lewat pengembangan talenta-talenta digital di Tanah Air. Namun, dia tak menjelaskan apa tujuan akhir dari pengembangan tersebut.
"Hilirisasi digital akan kami genjot. Kita akan siapkan anak-anak muda yang ahli artificial intelligence [kecerdasan buatan], anak-anak muda yang ahli block chain, anak-anak muda yang ahli robotik, anak-anak muda yang ahli perbankan syariah, anak-anak muda yang ahli crypto," ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Menkominfo Nezar Patria menyatakan bahwa lahirnya perusahaan rintisan atau startup menjadi bukti nyata dari hilirisasi digital. Keberadaan startup memiliki arti penting dalam menciptakan peluang ekonomi dan peluang kerja baru.
Baca Juga
Menkominfo Sebut BTS Tidak Dibutuhkan Lagi di Masa Depan, Kenapa?
Menurutnya, Indonesia harus mampu melahirkan nilai tambah dari kekuatan produktif yang dimiliki atau hilirisasi sektor digital.
"Karena tanpa hilirisasi, tidak ada value creation, tidak ada peluang baru, tidak ada job creation. Ini yang akan jadi problem kita ke depan. Nah startup kan coba menjawab ini," tandasnya dalam Ecosystem Mixer by Gerakan Nasional Startup Digital di MARKAS Midpoint Place, Jakarta Pusat, Kamis (22/02/2024), dikutip dari keterangan resmi Kemenkominfo.
Nezar mengungkapkan Indonesia berada pada peringkat keenam negara dengan jumlah startup terbanyak di dunia. Namun demikian, pertumbuhan startup di Indonesia masih belum merata karena masih terkonsentrasi di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya.
Baca Juga
Hati-Hati! 70% Transformasi Digital Perusahaan Berujung Kegagalan
"Di luar itu mungkin kecil. Karena daya dukungnya belum baik. Dan Jakarta menjadi ekosistem startup terbaik peringkat kedua Asia Tenggara dan 29 secara global," tuturnya.
Menurut Nezar, ada pergeseran signifikan dalam perkembangan bisnis yang menjadikan teknologi digital sebagai enabler untuk setiap proses.
"Saat ini, di negara maju seperti Amerika Serikat dan China, pertumbuhan ekonomi digital berkontribusi terhadap PDB [Pendapatan Domestik Bruto] mencapai 50%. Namun, Indonesia masih berada di bawah 10%," ujarnya.

