Menteri ESDM Tekankan Kolaborasi Pengembangan Teknologi Transisi Energi
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menghadiri Forum Joint Regional Strategy Dialogue ASEAN - Gulf Cooperation Council. Dalam kesempatan itu, ia berbicara soal pengalaman dan keunggulan ASEAN dan Negara-Negara Teluk yang dapat dikolaborasikan dan saling melengkapi, untuk pengembangan sistem transisi energi bersih.
Arifin menyebutkan, Negara-Negara Teluk telah memiliki kekayaan dan pengalaman di sektor minyak dan gas bumi. Selain itu, saat ini, mengembangkan teknologi energi terbarukan.
Di sisi lain, negara-negara ASEAN adalah tempat uji coba yang sempurna bagi transisi energi. ASEAN yang masih bergantung pada energi fosil, kini tengah bertransisi menuju energi bersih yang adil dan berkelanjutan.
"Kedua kawasan, ASEAN dan Negara-Negara Teluk dapat berkolaborasi. Ini tidak hanya pada teknologi dan investasi, namun juga pada keahlian dan pengalaman untuk mengakselerasi transisi menuju energi bersih," kata Arifin Tasrif dalam keterangan pada Selasa (30/4/2024).
Baca Juga
Fokus Pengembangan Energi Terbarukan
Arifin menjelaskan, transisi energi di Indonesia fokus terhadap pengembangan energi terbarukan, energi rendah karbon, pensiun dini PLTU, ketenagalistrikan, pengukuran dan praktek efisiensi energi, serta CCS/CCUS. "Indonesia sedang mengejar kapasitas maksimum dari potensi energi baru dan terbarukan (EBT), yakni energi surya, hidro, bioenergi, angin, panas bumi, dan energi laut. Kami juga membangun energi dari hidrogen dan amonia, yang pilot project-nya sudah dibangun di PLTG Tanjung Priok, bersamaan dengan pembangunan beberapa SPBU untuk pemanfaatan hidrogen," ujar dia.
Baca Juga
Kebutuhan Listrik di Oksibil Kini Manfaatkan 100% EBT, Hemat Rp 1,4 Miliar per Bulan
Tidak hanya itu, Arifin juga menyampaikan, proyek Lapangan LNG Tangguh Train 3 di Bintuni Papua, juga akan memproduksi blue ammonia untuk co-firing PLTU dan memproduksi hidrogen pada pabrik baja. Fasilitas ini juga dilengkapi CCS/CCUS untuk mencapai emisi nol bersih. Selama ini, Lapangan LNG Tangguh Train 3 menyuplai gas untuk pabrik pupuk terdekat.
"Kita juga perlu mengembangkan interkonektivitas melalui jaringan listrik dan pipa gas untuk mendukung integrasi energi regional dan pembangunan ekonomi. Indonesia akan mengembangkan Super Grid yang akan menghubungkan Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, untuk mendukung pengembangan sumber daya energi terbarukan dengan mengatasi kesenjangan antara produsen dan konsumen," ujar Arifin.
Pada pertemuan tersebut, Arifin juga mengapresiasi dukungan Negara-Negara Teluk pada transisi energi di Indonesia, yakni pembangunan PLTS Terapung Cirata 192 MWp. Ini akan segera diperluas menjadi 500 MWp, bekerja sama dengan Masdar UEA.
Selain itu, potensi pengembangan EBT lainnya tengah dikembangkan dengan Negara-Negara Teluk. Di antaranya adalah komitmen ACWA Arab Saudi untuk mendukung PLTS Terapung di Singkarak, Saguling dan Lampung, serta mendistribusikan PLTS di Kalimantan Barat. Selain itu, Mubadala Energy dari UEA akan bekerja sama dengan Pertamina untuk mengembangkan joint study potensi panas bumi di Kotamobagu, Sulawesi Utara.

