Bos ID Food Ungkap Tantangan Menyalurkan Bantuan Pangan Program Stunting, Ternyata Tidak Mudah
JAKARTA, Investortrust.id - Direktur Pengembangan dan Pengendalian Usaha ID Food, Dirgayuza Setiawan mengungkapkan sejumlah tantangan dalam menyalurkan bantuan pangan untuk program penanganan stunting.
“Tantangannya ada ada dua, yaitu dari sisi supply dan distribusi,” kata Dirgayuza kepada investortrust,id di kantor ID Food, Jakarta Timur, Jumat (19/01/2024).
Baca Juga
ID Food Salurkan Bantuan Pangan ke 1,4 Juta KK untuk Stunting, Anggaran Capai Rp 1,2 Triliun
Yuza mencontohkan, tidak semua daerah memproduksi atau menghasilnan telur ayam yang menjadi salah satu jenis pangan yang diberikan kepada keluarga risiko stunting (RSK). “Misalnya Kupang. Mau nggak mau sourcing-nya harus dari Jawa Timur karena produsennya kurang di situ,” ujar dia.
Karena itu, menurut Yuza, nama merek perusahaan Holding BUMN Pangan, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), ini harus mencari solusi untuk rantai pasok pangan atau food supply chain bagi daerah yang tidak memproduksi telur ayam.
“Jadi, kalau memang produsennya belum ada, kami coba cari caranya, kami bisa bantu menghidupkan bisnis unggas dan telur di daerah NTT, misalnya. Tapi kalau misalnya nggak ada ya kita harus ambil barang dari luar,” papar dia.
Baca Juga
Mampu Turunkan Stunting? Pemerintah Siapkan Insentif Rp1,68 T
Dirgayuza Setiawan menambahkan, tantangan besar lainnya dalam penyaluran bantuan pangan program stunting adalah minimnya logistik dan insfrastruktur yang mendukung fasilitas gudang pendingin (cold chain).
“Jadi memang negara kita biaya logistik masih sangat tinggi, karena infrastruktur logistik masih belum terbentuk, terutama untuk cold chain. Barang-barang seperti itu kan harus disimpan di ruangan khusus. Nah, itu masih terbatas,” tandas dia.

