Bisnis Mal Diyakini Tak Redup meski Digempur Toko Online, Ini Penyebabnya
JAKARTA, Investortrust.id – Pengamat ekonomi Aviliani menilai prospek bisnis pusat perbelanjaan atau mal tidak akan redup meskipun terus digempur toko online melalui platform e-commerce.
Aviliani menjelaskan, pertumbuhan bisnis pusat perbelanjaan di Tanah Air akan tetap hidup dikarenakan terdapat sektor makanan dan minuman atau food and beverage (FnB) serta ada kebutuhan yang berulang.
“Cuma memang mal salah satu yang banyak FnB. Kalau belanja memang tetap ada terutama untuk kebutuhan berulang,” ucapnya saat ditemui di sebuah acara talkshow di Jakarta Pusat, Jumat (23/2/2024).
Baca Juga
APPBI Sebut 4 Mal Baru Bakal Buka di Jabodetabek Sebelum Lebaran
Sementara itu, ekonom senior Indef ini menyebutkan perilaku masyarakat Indonesia terkait industri fashion atau garmen membuat bisnis mal masih dapat bertahan. Menurutnya, masyarakat Indonesia ingin berbelanja jika melihat dan mencoba langsung barangnya.
“Untuk fashion, terlihat orang masih butuh ke mal untuk coba baju karena orang lebih mudah beli baju secara offline kayak untuk coba-coba,” terang Aviliani.
“Jadi saya melihat untuk kebutuhan offline dan mal sendiri masih ada. Habis pandemi orang juga makin tinggi pergi ke mal, tetapi memang perlu ditambah FnB karena orang-orang Indonesia suka ngumpul,” tegasnya.
Baca Juga
Isu Okupansi Mal Rendah, Paradise Indonesia Tetap Optimistis dengan Mal Baru
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja (APPBI) Alphonzus Widjaja menargetkan tingkat keterisian pusat perbelanjaan pada toko-tokonya atau okupansi di 2024 adalah sebesar 90%.
Menurut Alphonzus, angka yang ditargetkan tersebut meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 2023 dengan tingkat okupansi rata-rata secara nasional mencapai 80%.
“Kami APPBI yakin sebetulnya mempunyai target yang optimistis untuk bisa kembali ke 90% di 2024,” ucap Alphonzus saat konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (18/1/2024).

