Kementerian PUPR Bangun Bendungan Pertama di Sulbar Senilai Rp 1,02 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah membangun Bendungan Budong-Budong di Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Bendungan berkapasitas tampung 65,18 juta m3 ini dibangun dengan anggaran Rp 1,02 triliun.
Pembangunan Bendungan Budong-Budong dikerjakan PT Abipraya-Bumi Karsa, kerja sama operasi (KSO), dan konsultan supervisi PT Indra Karya – PT Tuah Agung Anugrah – PT Ciriajasa EC, dan KSO.
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mengatakan, pembangunan infrastruktur yang menjadi fokus pemerintah tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing, namun juga pemerataan hasil-hasil pembangunan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat.
“Pembangunan bendungan diikuti pembangunan jaringan irigasinya. Dengan demikian, bendungan yang dibangun dengan biaya besar dapat bermanfaat karena airnya dipastikan mengalir sampai ke sawah-sawah milik petani,” kata Menteri Basuki dalam keterangan resmi, Minggu (25/2/2024).
Baca Juga
Menteri PUPR menjelaskan, bendungan pertama di Sulbar ini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sesuai Perpres No 109 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Perpres No 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.
“Bendungan ini dibangun untuk menambah jumlah tampungan air guna mendukung program ketahanan pangan dan air,” tutur dia.
Dia menambahkan, Bendungan Budong-Budong dibangun Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR dengan kapasitas tamping 65,18 juta m3 guna pengembangan dan peningkatan daerah irigasi (DI) seluas 3.577 ha.
Kepala BWS Sulawesi III, Dedi Yudha Lesmana mengatakan, kontrak konstruksi pembangunan Bendungan Budong-Budong dimulai sejak 8 Desember 2020. Sedangkan pekerjaan konstruksi bendungan dimulai September 2023.
"Pembangunan bendungan pertama di Sulbar ini masih dalam tahap penyelesaian konstruksi dengan progres fisik 27%," tandas dia.
Bendungan ini, kata Dedi, memiliki potensi manfaat air baku sebanyak 410 liter per detik. ''Kabupaten Mamuju Tengah sebagai daerah yang tengah berkembang diperkirakan akan banyak melakukan kegiatan pembangunan, baik di bidang pertanian lahan basah maupun kegiatan industri yang membutuhkan air baku dari sumber air bendungan,'' papar Dedi.
Pengendali Banjir
Dedi Yudha mengungkapkan, selain irigasi dan penyediaan air baku, pembangunan Bendungan Budong-Budong sangat diperlukan sebagai pengendali banjir untuk kawasan rawan bencana, seperti Kecamatan Budong-Budong, Topoyo, dan Karossa dengan mereduksi 60% dari 341,59 m3 per detik menjadi 106,76 m3 per detik.
Menurut Dedi, wilayah Kabupaten Mamuju Tengah dilalui tujuh Sungai, yakni Sungai Budong-Budong, Lumu, Karama, Karossa, Benggaulu, Kamansi, dan Panggajoang yang mengalir dari daerah perbukitan di bagian timur menuju daerah pesisir arah barat dan bermuara di perairan laut Selat Makassar.
“Bendungan Budong-Budong akan dibangun dengan membendung Sungai Salulebbo yang merupakan anak sungai Budong- Budong,” ucap dia.
Baca Juga
Kementerian PUPR Optimalkan Bendungan Pengga untuk Air Baku Sirkuit Mandalika
Kabupaten Mamuju Tengah memiliki luas wilayah 306.527 km2 yang didominasi lahan kering sekitar 38%, sedangkan lahan kering sekunder sekitar 24%. Kabupaten ini terdiri atas lima kecamatan, yakni Kecamatan Tobadak, Pangale, Budong-Budong, Topoyo, dan Karossa dengan komoditas unggulan, seperti tanaman pangan padi dan palawija serta perkebunan sawit, kakao, kelapa, jeruk, kopi, tanaman obat, dan aromatika (nilam).
Secara administratif, Bendungan Budong-Budong berada di Desa salulebo, Kecamatan Topoyo dengan daerah layanan meliputi Daerah Irigasi Tobadak, Sulobaja, Bambadaru, Sallogata, Tinali, Barakkang, dan Lembah Hada.

