BPS Ingatkan Risiko Penurunan Harga Komoditas CPO, Batu Bara, dan Nikel
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan pasar mengenai tren penurunan harga komoditas ekspor Indonesia. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini mengatakan penurunan harga terjadi baik secara bulanan dan tahunan.
“Untuk minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, nikel, dan minyak mentah mengalami penurunan harga, baik secara month to month (mtm) dan year on year (yoy)” kata Pudji, dalam Rilis BPS, Rabu (15/11/2023).
Pudji memaparkan harga CPO mengalami penurunan dari US$ 889,0 per metrik ton (mt) pada Oktober 2022 menjadi US$ 804,3 per mt pada Oktober 2023, atau -9,53 yoy. Secara mtm, harga CPO turun 3,05%.
Sementara itu harga batu bara turun dari harga US$ 389,8 per mt menjadi US$ 142,2 per mt pada periode yang sama atau -63,54% yoy. Sementara itu, secara mtm batu bara turun 12,53%.
BPS mencatat harga nikel turun dari harga US$ 22.000 per mt menjadi US$ 18.300 per mt atau -17,03% yoy. Secara bulanan, nikel tercatat turun 6,94% mtm.
Baca Juga
BPS Ungkap Penurunan Penumpang Angkutan Udara dan Laut, Ternyata Ini Penyebabnya
Gas alam mengalami penurunan secara yoy dengan harga US$ 5,6 per Metric Million British thermal unit (MMBtu) menjadi US$ 3,0 per mmbtu atau turun 46,81%. Tetapi, secara mtm, gas alam mengalami kenaikan 13,24%.
Sementara itu, minyak mentah mengalami penurunan harga US$ 90,3 menjadi US$ 89,1 per barel atau -1,38% yoy. Secara mtm, minyak mentah turun 3,40%.
Kenaikan yang tercatat yaitu bijih besi. Harga bijih besi naik menjadi US$ 118,8 per dry metric tonne unit (dmtu) dari US$ 92,6 per dmtu, atau naik 28,30% yoy. Meski demikian, secara bulanan harga bijih besi turun 1,38%.
Pudji mengatakan mitra dagang utama Indonesia di antaranya China, Amerika Serikat (AS), dan Jepang juga tumbuh positif secara yoy. Kondisi ini terlihat dengan adanya indikator PMI Manufaktur seperti India dan AS yang berada di zona ekspansif.
Sementara itu, untuk inflasi tahunan Oktober 2023 beberapa mitra dagang utama Indonesia relatif terkendali. Kondisi ini menunjukkan daya beli yang terjaga. “Terutama untuk mitra dagang utama seperti Tiongkok (-0,2%) Amerika Serikat (3,2%) dan India (4,87%)” ujar dia. (CR-7)
Baca Juga

