Pemerintah Perkuat Integrasi Industri dan Rantai Pasok Domestik
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Sarmuji menegaskan komitmennya melanjutkan dan memperkuat sebagai arah pembangunan industri Indonesia di tengah perubahan ekonomi global. Kebijakan yang mengintegrasikan berbagai sektor ekonomi tersebut diarahkan untuk memperkuat rantai pasok domestik serta meningkatkan daya saing manufaktur nasional.
Komitmen tersebut disampaikan Sarmuji dalam acara serah terima jabatan Menteri Perindustrian belum lama ini. Dia menilai fondasi kebijakan industrialisasi yang telah dibangun sebelumnya perlu diteruskan dan diperkuat agar pembangunan industri nasional memiliki kesinambungan lintas pemerintahan.
“Apa yang sudah dirintis oleh Pak Agus Gumiwang Kartasasmita sebagai menteri tentu harus kita lanjutkan. Kita akan teruskan apa-apa yang sudah dicapai dan apa yang sudah diletakkan akan kita perkuat kembali,” ujar Sarmuji dalam keterangannya dikutip Jumat (6/11/2026).
Baca Juga
Industri Manufaktur Tumbuh 5,88%, Kontribusi ke PDB Naik Jadi 19,22%
Salah satu kebijakan yang menjadi bagian dari fondasi tersebut adalah Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN), kerangka pembangunan industri nasional yang diluncurkan pada akhir 2025. Strategi ini dirancang untuk menyatukan berbagai agenda pembangunan ekonomi dalam satu arah kebijakan yang lebih terintegrasi dan komprehensif.
Tantangan utama Indonesia, bukan hanya mengolah kekayaan sumber daya alam, melainkan membangun struktur industri yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Pengolahan bahan mentah perlu terhubung dengan industri antara, pemasok komponen, manufaktur lanjutan, hingga produsen barang jadi.
Pandangan tersebut sebelumnya disampaikan Agus Gumiwang Kartasasmita saat masih menjabat menteri perindustrian. Dalam kuliah umum di Universitas Hiroshima, Jepang, pada Juli 2025, dia menyoroti perlunya pembaruan strategi industrialisasi untuk menjawab perubahan lingkungan global dan kebutuhan domestik. “Ini bukan sekadar kelanjutan kebijakan masa lalu, melainkan pembaharuan yang disesuaikan dengan realitas global dan kebutuhan domestik,” ujar Agus.
Dengan pendekatan tersebut, investasi industri tidak berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan bahan baku. Pengembangan industri juga perlu menciptakan kemampuan teknologi, memperkuat pemasok domestik, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan membuka peluang usaha baru.
SBIN dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui pendekatan pembangunan yang tidak lagi bertumpu pada kebijakan sektoral. Setiap sektor ekonomi ditempatkan dalam hubungan yang saling mendukung berdasarkan kebutuhan rantai pasok dan karakteristik produk industri.
SBIN berupaya mengatasi persoalan tersebut dengan mengorkestrasi agenda pembangunan industri dalam satu kerangka nasional. Setiap kementerian, lembaga, dan sektor ekonomi memiliki peran sesuai tugas dan kewenangannya, tetapi bergerak menuju sasaran pembangunan yang sama.
Sebagai contoh, peningkatan produksi pertanian tidak cukup hanya dilakukan melalui program peningkatan produktivitas lahan dan hasil panen. Pertumbuhan sektor pertanian juga membutuhkan dukungan industri agro, industri kimia dan pupuk, produsen alat dan mesin pertanian, industri transportasi, pengemasan, serta jasa logistik.
Keterhubungan tersebut memungkinkan peningkatan produksi pertanian menciptakan permintaan bagi industri pendukung. Sebaliknya, perkembangan industri pengolahan juga membuka pasar yang lebih luas bagi petani dan pemasok bahan baku domestik.
Memperkuat Keterhubungan Rantai Pasok Domestik
Integrasi lintas sektor dalam SBIN diterjemahkan melalui penguatan keterkaitan ke belakang dan ke depan atau backward dan forward linkages. Keterkaitan ke belakang merupakan hubungan industri dengan pemasok bahan baku, komponen, dan berbagai kebutuhan produksinya. Sementara itu, keterkaitan ke depan menggambarkan hubungan hasil produksi dengan industri pengguna, sektor ekonomi lain, serta pasar domestik dan ekspor.
Kedua hubungan tersebut menjadi penting karena masih terdapat sejumlah mata rantai produksi nasional yang bergantung pada pasokan luar negeri. Ketergantungan terhadap bahan baku, bahan kimia, komponen, dan teknologi impor dapat meningkatkan risiko produksi ketika terjadi gangguan perdagangan internasional.
SBIN mendorong penguatan ekosistem pemasok domestik melalui peningkatan kapasitas produksi, perbaikan mutu bahan baku, serta pengembangan bahan kimia dan teknologi pendukung. Fasilitas penyimpanan dan logistik rantai dingin juga perlu diperkuat untuk menjaga kualitas dan kelancaran distribusi bahan baku.
Baca Juga
Industri Manufaktur Ekspansi, Indeks Kepercayaan Industri Oktober 2026 Tembus 53,77
Penguatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) juga menjadi bagian dari agenda tersebut. Kebijakan ini perlu didukung peningkatan kemampuan teknologi pemasok, modernisasi mesin, serta kemitraan antara IKM dan industri besar agar produk lokal mampu memenuhi standar kualitas industri.
Pada sisi hilir, pengembangan produk perlu diarahkan pada diversifikasi penggunaan dan perluasan pasar. Produk turunan minyak sawit, misalnya, dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan industri kosmetik, deterjen, polimer, dan tekstil.
Pengembangan pasar tersebut membutuhkan dukungan sertifikasi, promosi, serta akses perdagangan domestik dan ekspor. Dengan demikian, industri pengolahan memiliki lebih banyak pilihan pasar dan tidak hanya bergantung pada satu jenis produk.
