Negara Produsen CPO Gelar Konverensi Minyak Nabati Berkelanjutan di Shanghai, Dorong Inovasi dan Ketahanan Rantai Pasok
Poin Penting
|
SHANGHAI, Investortrust.id -- Council of Palm Oil Producing Countries menggelar Sustainable Vegetable Oils Conference ke-4 di InterContinental Hotel Shanghai dengan mengusung tema Sustainability Alignment, Resilient Value Chains.
Perhelatan internasional yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan, Plantations et Huileries du Congo, serta Oil Palm Industry Corporation ini dihadiri sekitar 200 peserta dari 11 negara. Para peserta terdiri atas pejabat pemerintah, perwakilan industri, organisasi internasional, hingga pakar teknis dari sektor minyak sawit, kedelai, rapeseed, bunga matahari, dan jenis minyak nabati lainnya.
Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal CPOPC Izzana Salleh menekankan pentingnya kerja sama praktis antara negara produsen dan konsumen guna menghadapi perkembangan tuntutan keberlanjutan serta ekspektasi pasar.
"Perubahan harga relatif dapat menggeser keputusan pembelian antarjenis minyak nabati, sementara ketidakpastian regulasi dapat memengaruhi arus perdagangan dan kepercayaan investasi," kata Izzana melalui keterangan resmi pada Kamis (28/10/2026).
Ia menambahkan bahwa ketahanan rantai pasok memerlukan informasi pasar yang andal, hubungan dagang yang terdiversifikasi, logistik efisien, dan kerangka kebijakan yang terprediksi, sekaligus membutuhkan keterlibatan erat agar komitmen pasokan, ekspektasi keberlanjutan, dan insentif komersial dapat lebih selaras.
Sesi pembukaan konferensi mengulas peran Shanghai dalam perdagangan hijau dan kerja sama internasional, serta implikasi perubahan lanskap geopolitik terhadap perdagangan minyak nabati global dan ketahanan rantai pasok. Para peserta berdiskusi mengenai respons negara produsen dan konsumen terhadap tuntutan efisiensi, transparansi, dan keberlanjutan, sembari tetap menjaga produktivitas serta daya saing melalui peluang kerja sama di bidang inovasi dan pembangunan rendah karbon.
Baca Juga
Pungutan Ekspor Sawit Capai Rp22,7 Triliun, BPDP Perkuat Hilirisasi dan Program B50
Pada tahun 2026, produksi minyak nabati global diperkirakan mencapai sekitar 234 juta ton, dengan minyak sawit berkontribusi sekitar 85 juta ton atau lebih dari sepertiga total produksi global. Meskipun komoditas minyak nabati memiliki karakteristik pasar dan sistem produksi berbeda, konferensi ini menggarisbawahi keterkaitan antar komoditas melalui perdagangan global, pembentukan harga, substitusi, serta dinamika permintaan pangan dan industri. Perwakilan produsen menyoroti tantangan bersama seperti penggunaan lahan, ketahanan iklim, standar keberlanjutan, hingga akses pasar yang menjadikan pertukaran pengetahuan kian mendesak.
Dalam forum tersebut, China dinilai memegang peran penting sebagai konsumen utama sekaligus mitra strategis perdagangan, teknologi, dan inovasi. Pada tahun 2025, konsumsi minyak nabati China diperkirakan mencapai 35,8 juta ton, di mana 5,07 juta ton di antaranya merupakan minyak sawit. Turut memberikan pandangan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya peningkatan produktivitas petani kecil tanpa perluasan areal perkebunan, sementara Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia Datuk Seri Noraini Ahmad mendesak penerapan standar keberlanjutan yang mendukung akses pasar global serta penguatan kerja sama riset dan teknologi dengan China.
Konferensi ini diisi oleh dua sesi tematik utama yang mendalam. Sesi pertama mengulas peran teknologi pertanian, bahan tanam unggul, mekanisasi, agronomi presisi, dan standar keberlanjutan untuk mendukung produksi efisien, sekaligus menyoroti peran China dalam memfasilitasi perdagangan hijau serta transparansi rantai pasok.
Sesi kedua membahas adaptasi terhadap perubahan kebijakan hijau, kebijakan biodiesel B50 Indonesia, kemajuan biofuel Malaysia, upaya Republik Demokratik Kongo dalam membangun rantai nilai minyak sawit, hingga strategi Papua Nugini dalam mendukung petani kecil melalui infrastruktur dan peremajaan tanaman. CPOPC berkomitmen menjadikan SVOC sebagai platform strategis berkelanjutan untuk mengubah dialog menjadi kerja sama nyata dan memperkuat aliansi minyak sawit global berbasis bukti dan sains.
