Harga Emas Pulih ke US$ 3.950, Pasar Cermati Pemilu Paruh Waktu AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia menguat ke sekitar US$ 3.950 per troy ounce pada awal perdagangan sesi Asia, Selasa (3/11/2026), setelah penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi. Pelaku pasar juga mencermati pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS) dan perkembangan negosiasi Washington dengan Teheran yang berpotensi memengaruhi permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Penguatan emas tersebut terjadi ketika pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) pada Desember. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga mulai berkurang dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Baca Juga
Harga Emas Dunia Naik Tipis, The Fed Bayangi Pemulihan Logam Mulia
Penurunan harga minyak memberikan ruang bagi emas untuk pulih karena meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Meski demikian, ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS dan perkembangan konflik geopolitik masih membayangi pergerakan pasar keuangan global.
“Harga minyak yang lebih rendah telah memberikan sedikit kelegaan… dalam hal mengurangi kekhawatiran inflasi. Tetapi pasar masih mengharapkan kenaikan suku bunga pada bulan Desember dari The Fed, meskipun kemungkinan itu sedikit berkurang selama beberapa sesi perdagangan terakhir,” kata Wakil Presiden sekaligus Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals Peter Grant dilansir Reuters.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai hampir 73%. Angka tersebut turun dibandingkan perkiraan sekitar 80% pada pekan sebelumnya.
Selain kebijakan moneter, pasar juga mencermati pemilihan paruh waktu AS yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026). Pemilu tersebut berpotensi mengubah komposisi kekuatan politik di Kongres dan memengaruhi arah kebijakan ekonomi pemerintahan AS.
Hasil pemilu diperkirakan menggeser perhatian investor kembali pada persoalan inflasi dan defisit anggaran AS. Kedua isu tersebut dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap stabilitas fiskal dan nilai dolar AS.
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan Partai Demokrat memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan mayoritas kursi di DPR AS. Sementara itu, persaingan untuk menguasai Senat masih berlangsung ketat.
Dari sisi geopolitik, perkembangan pembicaraan antara AS dan Iran juga menjadi perhatian. Pemerintah Iran pada Senin (2/11/2026) menyatakan diskusi dengan Washington untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan masih berjalan.
Pernyataan tersebut muncul setelah beberapa hari perundingan antara pejabat Iran dan mediator Qatar. Pembicaraan itu menghasilkan proposal yang telah direvisi, tetapi belum menghasilkan terobosan besar, menurut laporan Reuters.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan, rencana yang diajukan Teheran pada September masih menjadi fokus pembicaraan. Namun, dia juga membenarkan pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Sabtu yang mengindikasikan bahwa proposal tersebut berpeluang dipersingkat.
Dolar AS dan Pembelian Bank Sentral Topang Emas
Analis HSBC menilai dolar AS yang stabil dapat membantu meredam risiko terhadap emas. Mereka juga melihat logam mulia tersebut masih memperoleh dukungan dari diversifikasi investasi, pembelian bank sentral, serta ketidakpastian geopolitik dan fiskal.
Pembelian emas oleh bank sentral menjadi salah satu sumber permintaan penting di pasar global. Langkah tersebut mencerminkan upaya sejumlah negara untuk mendiversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan pada aset tertentu.
Di sisi lain, HSBC memperkirakan harga minyak masih akan bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan informasi dan berita geopolitik. Kondisi tersebut membuat sektor energi tetap menjadi salah satu sumber ketidakpastian bagi pasar keuangan.
HSBC juga menyoroti perbedaan prospek pasar saham di sejumlah kawasan. Afrika Selatan dinilai mendapat keuntungan dari prospek positif harga emas, meskipun ketidakpastian geopolitik masih menjadi hambatan bagi perekonomian kawasan tersebut.
Baca Juga
Harga Emas Turun Mendekati US$ 4.050, Pasar Menanti Data Inflasi AS
Sebaliknya, harga minyak yang tinggi tetap menjadi tantangan bagi Afrika Selatan karena dapat meningkatkan tekanan biaya energi. Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga komoditas memberikan dampak yang tidak sama bagi setiap negara.
Di Asia Timur, HSBC melihat kawasan tersebut masih menunjukkan ketahanan karena memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, bank tersebut mulai menerapkan pendekatan investasi yang lebih selektif terhadap pasar di kawasan itu.
HSBC juga melihat sejumlah sektor memperoleh keuntungan dari berbagai tren positif yang mendorong permintaan dan harga. Valuasi saham di sektor tersebut dinilai paling rendah dibandingkan sektor lainnya, sementara banyak perusahaan besar masih mencatatkan arus kas yang kuat dan menawarkan dividen relatif tinggi.
