Bank Mega Syariah Jaga Pertumbuhan Berkualitas melalui Penguatan Pembiayaan dan Efisiensi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id– Dalam publikasi terkait Pertemuan Tahunan IMF–World Bank 2026 pada 18 Oktober 2026, BI menyoroti pentingnya stabilitas sistem keuangan serta penguatan sektor keuangan yang inovatif dan berdaya tahan. Sebelumnya, BI juga mendorong penguatan instrumen likuiditas untuk meningkatkan efisiensi operasional dan ketahanan perbankan syariah dalam menghadapi gejolak pasar.
Sejalan dengan arah tersebut, PT Bank Mega Syariah terus memperkuat pertumbuhan bisnis yang berkualitas melalui ekspansi pembiayaan secara selektif, pengelolaan risiko yang terukur, serta peningkatan efisiensi operasional. Hingga September 2026, perseroan mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 9,28% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp18,67 triliun, dibandingkan Rp17,09 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi intermediasi, pembiayaan Bank Mega Syariah tumbuh 11,92% yoy menjadi Rp10,31 triliun pada September 2026, dari Rp9,21 triliun pada September 2025. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan tren positif industri perbankan syariah yang berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 11,61% yoy hingga Agustus 2026.
Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita dalam siaran pers, Jumat (30/10/2026) menjelaskan, perseroan terus mengoptimalkan penyaluran pembiayaan dengan memperhatikan kualitas portofolio serta prinsip kehati-hatian. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pengelolaan risiko secara berkelanjutan.
Baca Juga
Bidik Sektor Produktif, Bank Mega Syariah Kucurkan Pembiayaan Rp 196,9 Miliar di ISEF 2026
Pertumbuhan pembiayaan Bank Mega Syariah turut didukung oleh segmen komersial yang mencapai Rp6,22 triliun atau meningkat 20,32% yoy hingga September 2026. Segmen ini menyumbang sekitar 60,27% terhadap total portofolio pembiayaan perseroan. Secara terperinci, pembiayaan corporate banking mencapai Rp4,72 triliun atau tumbuh 20,20% yoy, sedangkan pembiayaan business banking meningkat 20,71% yoy menjadi Rp1,50 triliun.
Di tengah ekspansi tersebut, Bank Mega Syariah tetap menjaga kualitas pembiayaan. Hingga September 2026, rasio non-performing financing (NPF) gross perseroan tercatat dikisaran 1%. Rasio NPF gross tersebut masih lebih rendah dibandingkan non performing loan (NPL) gross industri perbankan syariah yang di kisaran 2% pada September 2026.
Bank Mega Syariah juga terus memperkuat pengelolaan efisiensi operasional. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) tercatat sebesar 82,83% pada September 2026, dibandingkan 83,58% pada September 2025. Sementara itu, rasio return on assets (ROA) tercatat 1,50% pada September 2026.
Baca Juga
Pembiayaan Konsumer Bank Mega Syariah Naik 4,97% Jadi Rp 596,7 Miliar Hingga Juli 2026
Dari sisi pendanaan, Bank Mega Syariah mencatatkan total penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp12,01 triliun hingga September 2026. Perseroan terus mengoptimalkan pengelolaan dana dan likuiditas untuk menjaga keseimbangan antara penghimpunan dana dan penyaluran pembiayaan.
Ke depan, Bank Mega Syariah akan terus memperkuat penyaluran pembiayaan pada sektor-sektor produktif dengan tetap memperhatikan kualitas aset, manajemen risiko, dan efisiensi operasional. Melalui strategi tersebut, perseroan berupaya mempertahankan pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan sekaligus mendukung penguatan industri perbankan syariah nasional.
