Ketum Kadin Indonesia: 77 Brand Dunia, dari Airbus hingga Tesla Beli Komponen dari Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Anindya Bakrie, mengungkapkan bahwa sebanyak 77 merek dagang dunia seperti Airbus, Tesla, On, dan Nike telah membeli komponen buatan Indonesia.
"Jadi ada 77 merek dunia seperti Airbus, Tesla, lalu On, Nike sudah membeli komponen dari Indonesia," kata Anindya saat Rapimnas Kadin Indonesia 2026 di Jakarta pada Kamis, (29/10/2026).
Ia menegaskan bahwa tugas seluruh sektor industri saat ini adalah meningkatkan volume komponen serta penjualan tersebut, mengingat nilai ekspor komoditas komponen itu telah mencapai US$ 300 miliar.
Untuk memperkuat tren positif ini, Anindya mendorong hadirnya inisiatif We Buy From Indonesia dan We Buy Also Indonesia guna menarik lebih banyak investasi. Dibukanya diplomasi ekonomi serta berbagai perjanjian dagang dengan negara-negara mitra dinilai menjadi peluang strategis untuk mendongkrak pembelian produk asal Indonesia di pasar global.
Di sisi lain, Anindya memahami adanya tekanan luar biasa pada pasar modal dan sektor keuangan nasional, di mana dana sebesar Rp 124 triliun tercatat keluar dari pasar modal, sehingga nilai tukar rupiah tertekan hingga posisi Rp 18.710 per dolar AS.
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya Bakrie Dukung Imbauan Hashim: Anggota Kadin Jangan Goreng Saham!
Kendati terdapat tekanan tersebut, realisasi investasi asing ke Indonesia masih mampu mencatatkan angka Rp 270,2 triliun, didukung pertumbuhan laba bersih emiten sebesar 16 persen serta cadangan devisa yang mencapai US$ 146,3 miliar.
Dalam kesempatan yang sama Anindya mengakui tekanan pasar keuangan tersebut patut diwaspadai, namun fundamental perekonomian Indonesia terbukti tetap tangguh. Ia menekankan pentingnya menjaga ketahanan ekonomi agar dapat dirasakan hingga ke tingkat daerah.
Terkait pemangkasan transfer ke daerah dan belanja modal daerah, Anindya mengapresiasi kebijakan pelonggaran yang diambil Presiden Prabowo Subianto.
"Kita bisa memahami bahwa di awal memang ada pengetatan ikat pinggang supaya kita mulai dengan efisiensi, sebelum kita tentunya meningkatkan produktivitas," ujar Anindya.
