Anin Bakrie: Apple hingga Airbus Sudah Beli dari RI, Saatnya Perbesar Pesanan
Poin Penting
|
Di forum bisnis Indonesia–Rusia, Kadin mendorong perluasan pasar dan kemitraan industri. Kehadiran produk Indonesia dalam rantai pasok perusahaan global menjadi pijakan untuk meningkatkan pembelian dan membuka peluang bagi UMKM.
JAKARTA, Investortrust.id — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyoroti peluang memperbesar pembelian produk Indonesia oleh perusahaan global, seiring upaya memperkuat hubungan bisnis dengan Rusia. Menurut dia, sekitar 80 perusahaan internasional, termasuk Apple, Adidas, Tesla, dan Airbus, telah membeli produk atau komponen dari Indonesia. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan pembelian tersebut dan memperluas keterlibatan produsen nasional dalam rantai pasok dunia.
Anin, sapaan akrabnya, mengemukakan hal itu dalam Indonesia–Russia Business Forum bertema “Made in Indonesia: Doubling Trade and Investment between Indonesia and Russia” di Jakarta, Kamis (15/10/2026), dalam rangkaian Trade Expo Indonesia.
Di tengah pembicaraan mengenai diplomasi dan hubungan bilateral, Anin memperkenalkan sebuah buku yang memuat perusahaan-perusahaan global pembeli produk Indonesia. Pesannya jelas: hubungan dagang yang sudah terbangun menyediakan titik awal untuk mengejar pesanan yang lebih besar.
Menurut Anin, tugas dunia usaha adalah memastikan perusahaan-perusahaan tersebut membeli lebih banyak dari Indonesia. Peluang itu perlu dimanfaatkan untuk memperluas pasokan komponen sekaligus meningkatkan keterlibatan industri nasional dalam proses produksi.
Dorongan tersebut menjadi bagian dari pendekatan Kadin untuk membawa diplomasi ekonomi lebih dekat dengan kebutuhan pengusaha. Hubungan antarnegara harus dapat diterjemahkan menjadi akses pembeli, kesempatan memasok barang, dan investasi yang benar-benar terlaksana.
Untuk mendukungnya, Anin turut memperkenalkan platform informasi ekspor yang membantu mengenali pelaku usaha, produk yang dijual, pasar tujuan, serta besarnya perdagangan. Informasi semacam itu diperlukan agar peluang bisnis dapat ditindaklanjuti secara lebih terarah.
Kadin, menurut dia, perlu memastikan anggotanya memperoleh manfaat dari momentum penguatan hubungan internasional. Pembicaraan mengenai potensi ekonomi harus sampai pada pertanyaan praktis: siapa yang dapat memasok, apa yang dibutuhkan pembeli, dan bagaimana transaksi dapat diwujudkan.
Dalam hubungan Indonesia–Rusia, Anin menekankan bahwa pekerjaan bersama harus bergerak melampaui pembicaraan, penyusunan dokumen, dan penandatanganan kesepakatan. Ukuran keberhasilannya terletak pada perdagangan dan investasi yang terealisasi.
Ia mengapresiasi pihak-pihak yang bekerja untuk mempertemukan pengusaha kedua negara. Kehadiran para menteri dan delegasi bisnis dalam forum tersebut dinilainya menunjukkan keinginan mempercepat pelaksanaan kerja sama, terutama ketika situasi politik dan ekonomi global menghadapi banyak ketidakpastian.
Baca Juga
Anin Bakrie: RI–Rusia Harus Beranjak dari Tanda Tangan ke Investasi Nyata
Anin juga menyinggung kehadiran Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia James Riady di Vladivostok dalam rangkaian diplomasi Presiden Prabowo Subianto. Keterlibatan pengusaha dalam agenda semacam itu penting agar komunikasi antarpemimpin negara diikuti penjajakan peluang usaha.
Dunia usaha, menurut Anin, memiliki tanggung jawab untuk mengerjakan peluang yang dibuka pemerintah. Kehadiran dalam delegasi perlu berlanjut menjadi hubungan antarpengusaha, transaksi, dan pengembangan investasi.
Ia melihat empat bidang utama yang dapat memperkuat kerja sama Indonesia–Rusia, yakni perdagangan dan akses pasar, kemitraan industri, ketahanan pangan dan energi, serta transportasi dan konektivitas.
Pada bidang industri, Anin menilai keahlian Rusia dalam industri berat dapat dipertemukan dengan agenda Indonesia meningkatkan nilai tambah melalui industrialisasi. Kebutuhan dan kemampuan yang saling melengkapi tersebut menjadi dasar untuk membangun kemitraan produksi dan teknologi.
Indonesia ingin meningkatkan posisinya dalam rantai nilai. Karena itu, kerja sama dengan Rusia perlu diarahkan untuk mendukung penguatan kemampuan industri dan pengembangan kegiatan ekonomi bernilai tambah.
Ketahanan pangan dan energi juga mendapat perhatian khusus. Anin mengatakan, kedua agenda itu terus ditekankan Presiden Prabowo. Besarnya potensi lahan dan sumber daya air Indonesia memberi ruang untuk meningkatkan produksi pangan, meskipun pelaksanaannya membutuhkan kerja nyata.
Di sektor energi, ia melihat peluang pemanfaatan teknologi di luar sumber energi konvensional seperti batubara, minyak, dan gas. Peluang tersebut dapat menjadi bagian dari penjajakan kerja sama kedua negara.
Adapun transportasi dan konektivitas menjadi kebutuhan mendasar Indonesia sebagai negara kepulauan. Anin menekankan pentingnya investasi dua arah untuk memperkuat hubungan ekonomi, dengan konektivitas sebagai salah satu bidang yang perlu dikembangkan.
Di balik agenda perdagangan dan industri tersebut, Anin mengingatkan agar usaha kecil tidak tertinggal. Menurut dia, UMKM memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia, termasuk pada masa krisis.
Karena itu, manfaat hubungan bisnis internasional harus menjangkau pelaku usaha kecil. Kadin perlu membantu mereka mengakses kesempatan yang muncul dari perluasan pasar dan kerja sama investasi.
Anin memandang optimisme sebagai modal untuk terus bergerak. Ia mengingat pengalamannya melewati krisis 1997–1998, krisis keuangan global 2008, dan pandemi pada 2020. Setiap krisis membawa perubahan besar yang menuntut pengusaha mencari cara bertahan dan menemukan peluang baru.
Dalam pandangannya, pengusaha yang tetap berusaha akan terus mencari jalan di tengah kesulitan. Semangat itu pula yang perlu dibawa dalam memperkuat hubungan bisnis Indonesia–Rusia: menjaga komunikasi, mencari kesempatan, dan menindaklanjuti peluang investasi.
Hubungan kedua negara sendiri memiliki akar sejarah yang panjang. Anin menyinggung dukungan Uni Soviet dalam pembangunan kompleks Gelora Bung Karno dan Rumah Sakit Persahabatan sebagai warisan kerja sama yang masih dirasakan masyarakat Indonesia.
Penyebutan dua fasilitas tersebut memberi konteks bagi agenda bisnis saat ini. Persahabatan antarpemerintah telah menghasilkan manfaat lintas generasi, dan dunia usaha memiliki kesempatan untuk meneruskannya dalam bentuk perdagangan serta pembangunan industri.
Anin juga menempatkan hubungan Indonesia–Rusia dalam semangat kerja sama Selatan–Selatan. Di tengah tantangan politik dan ekonomi, negara-negara berkembang perlu terus mencari ruang untuk menjaga pertumbuhan dan memperluas kemitraan.
Untuk memelihara hubungan itu, ia mengapresiasi kegiatan Economic Diplomacy Breakfast yang diinisiasi dan dijaga kesinambungannya oleh James Riady. Pertemuan rutin tersebut, menurut dia, telah berkembang menjadi komunitas yang mempertemukan perwakilan diplomatik, pemerintah, dan pengusaha.
Dari forum diplomasi hingga pertemuan dengan calon pembeli, Anin membawa pesan yang sama: peluang harus dikerjakan. Bagi Kadin, keberadaan perusahaan global yang telah membeli dari Indonesia merupakan pijakan untuk langkah berikutnya—memperbesar pesanan, meningkatkan nilai tambah, dan memperluas kesempatan bagi pelaku usaha nasional.
