Anin Bakrie: RI–Rusia Harus Beranjak dari Tanda Tangan ke Investasi Nyata
Poin Penting
|
Persahabatan panjang Indonesia–Rusia harus menghasilkan transaksi, pembangunan industri, dan peluang bagi UMKM. Kadin mendorong pengusaha kedua negara mengubah kesepakatan menjadi bisnis yang benar-benar berjalan.
JAKARTA, Investortrust.id — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mendorong hubungan Indonesia–Rusia memasuki babak yang lebih konkret: memperbesar perdagangan dan merealisasikan investasi. Kedekatan politik serta persahabatan kedua negara harus diterjemahkan menjadi kegiatan usaha yang membuka pasar, memperkuat industri, dan memberikan manfaat bagi pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pesan tersebut disampaikan Anin, sapaan akrabnya, dalam Indonesia–Russia Business Forum bertema “Made in Indonesia: Doubling Trade and Investment between Indonesia and Russia” di Jakarta, Kamis (15/10/2026), dalam rangkaian Trade Expo Indonesia.
Menurut Anin, ukuran keberhasilan kerja sama tidak berhenti pada pertemuan, dokumen, ataupun penandatanganan kesepakatan. Pengusaha kedua negara perlu memastikan seluruh proses tersebut berujung pada transaksi perdagangan dan investasi yang benar-benar terlaksana.
Ia mengapresiasi berbagai pihak yang telah bekerja untuk membawa hubungan bisnis Indonesia–Rusia ke tahap implementasi. Kehadiran para menteri dan delegasi bisnis dalam forum tersebut, menurut dia, memperlihatkan kesungguhan untuk mempercepat realisasi kerja sama di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi dunia.
Anin juga menyinggung keterlibatan Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia James Riady dalam kunjungan ke Vladivostok. Kehadiran dunia usaha dalam agenda internasional Presiden Prabowo Subianto, menurut dia, penting agar diplomasi antarpemimpin negara memiliki tindak lanjut bisnis.
Bagi Kadin, pengusaha harus hadir untuk mengidentifikasi peluang, membangun kemitraan, serta mengerjakan kesepakatan yang telah dibuka melalui jalur diplomasi.
Hubungan Indonesia–Rusia, lanjut Anin, memiliki modal sejarah yang kuat. Ia mengingatkan kembali persahabatan yang terjalin sejak masa awal Republik Indonesia, antara lain melalui dukungan Uni Soviet dalam pembangunan kompleks Gelora Bung Karno dan Rumah Sakit Persahabatan.
Dua fasilitas tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan kedua negara pernah menghasilkan manfaat yang nyata dan dirasakan lintas generasi. Semangat itulah yang perlu dihidupkan kembali melalui perdagangan, investasi, dan kemitraan industri.
Anin juga menempatkan penguatan hubungan Indonesia–Rusia dalam konteks kerja sama Selatan–Selatan. Menurut dia, negara-negara berkembang memiliki kepentingan bersama untuk menjaga pertumbuhan dan memperluas kesempatan ekonomi di tengah tantangan global.
Ia mengajak pengusaha tetap optimistis. Pengalaman menghadapi krisis 1997–1998, krisis keuangan global 2008, serta pandemi pada 2020 menunjukkan bahwa setiap guncangan membawa perubahan besar. Pelaku usaha perlu terus bergerak untuk menemukan jalan bertahan sekaligus menangkap peluang baru.
Optimisme tersebut, menurut Anin, harus diwujudkan dalam tindakan: mencari pasar, membangun kemitraan, dan memastikan rencana investasi dapat dijalankan.
Untuk memperluas pasar, Kadin mendorong promosi produk serta kemampuan industri Indonesia kepada pembeli internasional. Dalam forum tersebut, Anin memperkenalkan sebuah buku yang memuat sekitar 80 perusahaan global yang, menurut paparannya, telah membeli produk atau komponen dari Indonesia. Ia menyebut sejumlah nama besar, antara lain Apple, Adidas, Tesla, dan Airbus.
Tugas berikutnya adalah memperbesar pembelian sekaligus meningkatkan posisi produsen Indonesia dalam rantai pasok global. Peluangnya tidak hanya terletak pada penambahan volume, tetapi juga perluasan jenis komponen dan produk bernilai tambah yang dapat dipasok.
Kadin juga mendorong pemanfaatan platform informasi ekspor untuk membantu mempertemukan kemampuan pemasok Indonesia dengan kebutuhan pasar. Informasi mengenai siapa yang menjual, produk yang ditawarkan, tujuan pasar, serta nilai perdagangan diperlukan agar promosi bisnis lebih terarah.
Dengan pendekatan tersebut, pembicaraan mengenai hubungan ekonomi kedua negara dapat diterjemahkan menjadi peluang yang bisa ditindaklanjuti anggota Kadin.
Anin menekankan bahwa manfaat kerja sama harus menjangkau UMKM. Menurut dia, usaha kecil memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia, terutama ketika terjadi krisis. Karena itu, perluasan hubungan internasional harus membantu mereka memperoleh akses pasar dan kesempatan menjadi bagian dari rantai pasok.
Dalam hubungan dengan Rusia, Anin menyoroti empat bidang utama yang dapat dikembangkan, yakni perdagangan dan akses pasar, kemitraan industri, ketahanan pangan dan energi, serta transportasi dan konektivitas.
Di bidang industri, ia menilai kemampuan Rusia dalam industri berat dapat dipertemukan dengan agenda Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah melalui industrialisasi. Kemitraan tersebut membuka ruang bagi kerja sama teknologi dan pengembangan kapasitas produksi.
Ketahanan pangan dan energi juga menjadi perhatian utama. Anin mengatakan, kedua bidang itu terus ditekankan Presiden Prabowo sebagai prioritas. Potensi lahan dan sumber daya air Indonesia perlu didukung teknologi, investasi, serta kemampuan pelaksanaan agar dapat menghasilkan peningkatan produksi.
Sementara itu, kerja sama energi dapat dikembangkan dengan melihat peluang teknologi di luar sumber energi konvensional. Menurut dia, potensi tersebut perlu diterjemahkan menjadi proyek yang dapat direalisasikan.
Transportasi dan konektivitas menjadi bidang penting lainnya. Karakter Indonesia sebagai negara kepulauan menuntut dukungan infrastruktur dan jaringan logistik agar kegiatan produksi terhubung dengan pasar. Dalam konteks ini, Anin menekankan pentingnya investasi dua arah.
Ia turut mengapresiasi keterlibatan perwakilan diplomatik dalam kegiatan Economic Diplomacy Breakfast yang diinisiasi dan dijaga kesinambungannya oleh James Riady. Pertemuan rutin tersebut, menurut dia, telah berkembang menjadi komunitas yang mempertemukan pemerintah, diplomat, dan dunia usaha.
Melalui komunikasi yang berkelanjutan, Kadin berharap peluang bisnis dapat lebih cepat ditemukan dan ditindaklanjuti. Bagi Anin, persahabatan panjang Indonesia–Rusia harus terus menghasilkan manfaat baru: perdagangan yang meningkat, investasi yang berjalan, dan semakin banyak pengusaha yang memperoleh kesempatan untuk bertumbuh.
