Kadin: Keluar dari Jebakan Pendapatan Menengah Butuh Transformasi Teknologi dan Hilirisasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menegaskan bahwa Indonesia memiliki waktu yang sangat terbatas untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap). Dalam rentang waktu 20 tahun ke depan, Indonesia harus mampu menggenjot PDB per kapita dari sekitar U$ 5.000 menjadi U$ 14.000.
"Kita hanya punya satu kesempatan untuk membuatnya. Setelah ini kita akan tua, biaya untuk memelihara seluruh generasi akan naik, dan kita sebaiknya sudah membuatnya saat itu," ujar Anindya dalam diskusi panel bertajuk "From Capability to Regional Scale: Asia’s Next Technology Growth Engine" di rangkaian acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurut Anindya, berkaca dari model pertumbuhan di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan China, Indonesia selama ini kerap terjebak di posisi tengah (hollow middle). Indonesia sangat mahir di sektor hulu sebagai penambang atau petani, serta di sektor hilir yang bersifat manual, namun masih minim dalam hal pengolahan lanjutan.
Ia menekankan pentingnya penguasaan teknologi untuk mengolah mineral kritis dan sumber daya alam langsung menjadi perangkat siap pakai (end-user device). Namun, proses tersebut tidak bisa instan dan harus dimulai melalui adopsi, adaptasi, serta infusion (pemasukan) teknologi dari mitra global.
Baca Juga
Danantara Resmi Buka DTIIF 2026: Genjot Kolaborasi Global hingga Perkuat Hilirisasi Riset Nasional
"Kita butuh orang, kita butuh banyak orang, dan kita butuh untuk memikirkan bagaimana melatih mereka dengan cepat karena dalam 20 tahun ke depan kita membutuhkan 4 hingga 5 juta lapangan pekerjaan," jelasnya.
Selain aspek sumber daya manusia dan teknologi, Anindya juga menyoroti pentingnya ketersediaan patient capital (modal sabar) yang didukung oleh pasar modal yang solid dan tepercaya. Kemitraan strategis dengan pihak luar juga menjadi kunci dalam menguasai rantai pasok hilirisasi sebelum bangsa Indonesia mampu mengerjakannya secara mandiri.
Di tengah dinamika geopolitik global, Anindya mengapresiasi arah kebijakan luar negeri Presiden Prabowo Subianto dengan prinsip 'seribu kawan, nol musuh' (zero enemy, thousand friends). Menurutnya, prinsip tersebut sangat membantu membuka peluang integrasi regional yang lebih luas, termasuk melalui perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA) dengan Uni Eropa dan berbagai perjanjian perdagangan bebas lainnya.
Turut hadir bersama Anindya dalam sesi diskusi panel tersebut adalah Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman, serta Managing Director Global Relations & Communications Danantara Indonesia, Pahala Mansury.
