Hilirisasi Timah Indonesia Belum Optimal, Industri Penyerap Masih Terbatas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia telah mengembangkan hilirisasi timah hingga menghasilkan produk turunan, seperti solder, bahan kimia timah, dan bubuk timah. Namun, penyerapan produk tersebut di pasar domestik masih sekitar 5% sehingga pengembangan industri hilir penyerap turunan timah menjadi tantangan untuk meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri.
Ketua Bidang Kajian Mineral Strategis, Mineral Kritis, dan Hilirisasi Mineral Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Muhammad Toha menilai, rantai hilirisasi mineral, termasuk timah di Indonesia belum terhubung secara utuh. "Pengolahan bahan mentah di dalam negeri masih banyak menghasilkan produk antara atau intermediate product yang kemudian dipasarkan ke luar negeri," kata Toha saat dihubungi Investortrust.id, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga
Timah (TINS) Siapkan Strategi Korporasi, Buyback Saham Masuk Radar
Kondisi itu kata Toha, membuat Indonesia belum sepenuhnya menikmati potensi nilai tambah dari sumber daya mineralnya. Padahal, nilai ekonomi yang lebih besar dapat diperoleh ketika bahan hasil pengolahan digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan barang jadi di dalam negeri.
Menurut dia, persoalan tersebut tidak hanya terjadi pada timah. Sejumlah komoditas mineral lain juga menghadapi tantangan serupa karena industri yang menyerap hasil pengolahan mineral belum berkembang sesuai dengan potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia.
"Kenapa? Karena memang faktanya industri dan produk kita itu enggak berkembang, karena enggak berkembang, kebutuhan dalam negerinya terbatas sehingga penyerapannya terbatas," ujar Toha.
Hilirisasi telah berjalan pada tahap pengolahan, tetapi pengembangan produk lanjutan yang menyerap bahan tersebut belum mengikuti kecepatan yang sama. Padahal, timah memiliki beragam kegunaan dalam industri manufaktur. Logam ini digunakan untuk solder pada komponen elektronik, bahan kimia untuk berbagai keperluan industri, serta pelapis kaleng. Senyawa timah juga digunakan dalam pembuatan bahan penstabil untuk produk berbasis polivinil klorida (polyvinyl chloride/PVC), material yang banyak digunakan untuk produk bangunan.
Teknologi dan SDM Jadi Tantangan
Menurut Toha, peningkatan penyerapan domestik sangat mungkin dilakukan, tetapi prosesnya membutuhkan keseriusan dan keterlibatan berbagai pihak. Pengembangan industri hilir tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas pengolahan mineral, tetapi harus diikuti penguasaan teknologi, ketersediaan peralatan, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Baca Juga
MIND ID Perkuat Tata Kelola Timah di Belitung Pasca-Kantor PT Timah (TINS) Dibakar
Ia menilai, kemampuan teknologi berbasis mineral di Indonesia masih lemah. Kondisi tersebut menjadi tantangan untuk mengembangkan produk yang lebih beragam dan memiliki nilai tambah lebih tinggi. Keterbatasan itu juga membuat industri nasional belum mampu memanfaatkan seluruh peluang dari bahan baku yang tersedia. Tanpa pengembangan kemampuan produksi dan teknologi, pengolahan mineral berisiko berhenti pada produk antara yang masih membutuhkan proses lanjutan sebelum menjadi barang jadi.
"Teknologi berbasis mineral kita itu masih lemah, dan itu bukan cuma di timah, tetapi di semua komoditas," ujarnya.
Tantangan serupa, menurut Toha, terlihat pada komoditas mineral lain, termasuk nikel dan aluminium. Pengolahan mineral di dalam negeri tidak dengan sendirinya menjamin bahwa seluruh rantai produksi akan berkembang di Indonesia. Jika industri pengguna belum tersedia atau belum mampu menyerap produk yang dihasilkan, bahan olahan tetap akan mencari pasar di luar negeri.
