Semen Merah Putih (CMNP) Pasang MP Tree, Teknologi Pohon Cair Penyerap Emisi CO2
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT), produsen semen dengan brand Semen Merah Putih, menggandeng PT Algaepark Indonesia Mandiri, anak usaha PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT), untuk mengembangkan teknologi merah putih (MP) tree fotobioreaktor mikroalga sebagai solusi penyerapan emisi karbon dioksida (CO2).
MP Tree merupakan perangkat photobioreactor microalgae berbentuk “pohon cair” yang berfungsi menyerap CO2 secara terukur dan ditempatkan di area publik. Teknologi ini menjadi bagian inisiatif Greenovation 4P (process, product, people, planet) yang dijalankan perusahaan untuk mendukung target emisi nol karbon Indonesia pada 2060.
“Kami akan pasang (MP Tree), insyaallah, dua minggu lagi di pabrik kami di Jatiasih, Bekasi,” kata Head of Marketing Semen Merah Putih, Nyiayu Chairunnikma dalam media briefing di Jakarta Selatan, Selasa (25/11/2025).
Nyiayu menjelaskan, kolaborasi ini untuk menghadirkan inovasi pengurangan karbon di wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. “Bagaimana caranya reduce emisi karbon di Jakarta dengan lahan sempit, kepemilikan lahan juga enggak semudah itu. Sementara menanam hutan mangrove nunggu 20 tahun, terlalu lama. Kita coba cari apa inovasi yang bisa kami lakukan,” jelasnya.
Dari sisi teknis, Komisaris Algaepark Indonesia Mandiri, Is Heriyanto menyampaikan, MP Tree berkapasitas 200 liter mampu menyerap sekitar 336 kilogram CO2 per tahun. “Alga ini bisa dipanen, salah satunya untuk pakan ternak hingga suplemen kesehatan,” ujarnya.
Selain fungsi penyerapan karbon, MP Tree dapat dikemas dalam bentuk kursi bahkan fasad gedung/bangunan, sehingga dapat ditempatkan secara fleksibel di berbagai ruangan.
Adapun, uji coba instalasi pertama MP Tree dilakukan di pabrik Semen Merah Putih, Jatiasih, Bekasi dengan biaya sekitar Rp 150 juta. “Di kuartal IV (2024) kita ke sana, kemudian mulai mendesain. Nah, itu kita trial di beberapa minggu sebelum 19 September (2025). Itu sudah kita trial, akhirnya penyempurnaan kita di tanggal 19 sampai 21 November (2025). Biaya yang digelontorkan estimasinya sudah di atas Rp 150 juta mungkin ya,” ungkap Is Heriyanto.
Seiring pernyataan Is Heriyanto, Nyiayu menambahkan, biaya terbesar justru berasal dari pengembangan digitalisasi hingga internet of things (IoT). “Sebenarnya mikroalganya sendiri investasinya sangat kecil, investasi paling besar adalah IoT, digitalisasinya. Bahwa kita kan harus ada showing dia capture (carbon) berapa, terus mengeluarkan oksigen berapa, terus density-nya sudah berapa, apakah sudah waktu panen atau enggak. Hal-hal yang seperti itu yang sebenarnya justru cost terbesarnya ada di situ,” pungkasnya.

