243 Juta Orang ASEAN Pakai AI, tetapi Mayoritas Masih Gratisan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Sebanyak 243 juta orang di Asia Tenggara telah menggunakan kecerdasan buatan generatif atau generative AI (GenAI). Namun, mayoritas masih mengandalkan layanan gratis, sehingga peluang bisnis dari teknologi ini belum tergarap maksimal.
Laporan e-Conomy SEA 2026 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat pengguna GenAI mencapai 58% populasi usia kerja di enam negara utama ASEAN. Angka tersebut tercapai dalam waktu kurang dari tiga tahun, jauh lebih cepat dibandingkan adopsi internet yang membutuhkan lebih dari satu dekade.
Meski adopsi tumbuh pesat, penggunaan AI di kawasan ini masih relatif dangkal. Rata-rata penggunaan AI per kapita di Asia Tenggara baru sekitar 10% dari tingkat penggunaan di Amerika Serikat.
"Hanya sekitar 1-2% populasi di enam pasar utama Asia Tenggara yang membayar akun GenAI personal," tulis laporan tersebut dikutip, Selasa (27/10/2026). Sebagai pembanding, penetrasi akun berbayar di AS mencapai 3%, namun angka tersebut menggunakan basis rumah tangga, bukan total populasi.
Baca Juga
Pluang Luncurkan Agentic Trading, Pengguna Bisa Investasi Lewat ChatGPT hingga Gemini
Pasar GenAI di Indonesia
Indonesia menjadi salah satu pasar yang masih memiliki ruang pertumbuhan besar. Dalam laporan tersebut, tingkat adopsi GenAI di Indonesia mencapai 54% dari populasi usia kerja yang terhubung ke internet, lebih rendah dibandingkan Singapura sebesar 70%, Malaysia 68%, Vietnam 65%, dan Thailand 63%.
Besarnya peluang Indonesia bukan hanya berasal dari penambahan pengguna baru, tetapi juga peningkatan frekuensi dan kedalaman penggunaan AI. Laporan mencatat sekitar 51% pengguna GenAI di kawasan menggunakan teknologi ini setidaknya setiap minggu, sementara hampir seperlima mengaksesnya setiap hari.
Sekitar 60% penggunaan AI di Asia Tenggara berasal dari konsumen. Sebagian besar penggunaan konsumen mencakup aktivitas seperti menyusun dan menyunting tulisan, riset, analisis, hingga pemrograman.
Kondisi tersebut membuka peluang monetisasi melalui langganan berbayar, iklan, dan layanan AI yang dapat menjalankan tugas lebih kompleks. Namun, penyedia layanan perlu menawarkan manfaat yang jelas agar pengguna bersedia beralih dari layanan gratis ke versi berbayar.
