Menperin Siapkan Insentif Mobil Hybrid 2026, Berapa Besarannya?
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji akan mengusulkan pemberian insentif untuk mobil hybrid pada 2026. Saat ini, pemerintah masih membahas aspek teknis, termasuk besaran dan skema insentif yang akan diajukan untuk mendukung industri otomotif nasional.
Sarmuji mengatakan, pembahasan teknis mengenai perluasan insentif bagi kendaraan hybrid telah dimulai bersama kementerian terkait. Namun, pemerintah masih mengkaji besaran dukungan yang akan diberikan kepada industri otomotif. “Sudah, mulai ada pembahasan teknis, masih dalam proses pembahasan teknis. Nanti seberapa besar insentif yang akan kita usulkan akan lebih diperjelas lagi,” kata Sarmuji seusai bertemu dengan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga
IHSG Terjun Lebih dari 3% Sejam Jelang Penutupan, Saham Konglo Berguguran
Menurut Sarmuji, insentif untuk mobil hybrid tidak harus memiliki besaran yang sama dengan insentif kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). Industri otomotif juga tidak meminta agar dukungan untuk kendaraan hybrid disamakan dengan insentif BEV. “Dari industri pun tidak meminta sama seperti BEV ya, tidak minta sama, tetapi yang penting ada insentif. Besarannya secara teknis masih dikaji,” ujarnya.
Sarmuji menegaskan, usulan insentif mobil hybrid akan diajukan pada tahun ini. Meski demikian, pemerintah belum mengumumkan besaran maupun skema insentif karena masih menunggu hasil pembahasan teknis. Di sisi lain, Kemenperin terus mendorong pengembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia, baik mobil hybrid maupun kendaraan listrik berbasis baterai. Pemerintah juga meminta Toyota memperluas pengembangan dan produksi BEV di Indonesia seiring dengan kemajuan ekosistem baterai nasional.
Baca Juga
Menperin Minta Toyota Percepat Produksi Mobil Listrik Berbasis Baterai di Indonesia
Sementara itu, Presiden Direktur PT TMMIN Nandi Julyanto menilai stimulus diperlukan untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pembelian mobil baru. Menurut Nandi, kondisi pasar otomotif saat ini menunjukkan adanya pergeseran permintaan masyarakat ke kendaraan bekas. Karena itu, stimulus dinilai penting untuk mendukung peningkatan permintaan terhadap mobil baru.
“Pentingnya stimulus untuk meningkatkan daya beli sehingga pembelian mobil baru itu meningkat, karena sekarang marketnya masih bergeser kepada used car. Jadi nanti bentuknya seperti apa mungkin perlu diskusi lebih lanjut,” ujarnya.
