Bahlil Tak Ragu Tahan Ekspor Listrik, Kebutuhan Dalam Negeri dan 'Data Center' 20 GW Jadi Prioritas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah belum akan merealisasikan ekspor listrik ke negara lain dalam waktu dekat karena kebutuhan energi di dalam negeri masih tinggi. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menegaskan, pemenuhan kebutuhan domestik menjadi prioritas sebelum Indonesia mempertimbangkan penjualan listrik ke luar negeri.
Bahlil mengatakan, pemerintah masih mengkaji berbagai aspek terkait rencana ekspor listrik, mulai kebutuhan nasional hingga perhitungan pasokan yang tersedia. Untuk itu, kebijakan ekspor belum dapat dipastikan dalam waktu dekat.
Baca Juga
PLN Kembangkan Solusi Layanan Kelistrikan Terintegrasi untuk Rumah Tangga hingga Dunia Usaha
“Kita sampai dengan hari ini masih melakukan kajian untuk tahapan proses ekspor listrik ke negara lain, karena kita masih butuh listrik banyak di negara kita, jadi mungkin belum dalam waktu dekat,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Salah satu pertimbangan utama pemerintah adalah besarnya kebutuhan listrik untuk mendukung pengembangan industri dan infrastruktur digital. Bahlil mencontohkan, kebutuhan listrik untuk pusat data atau data center di Indonesia mencapai 20 gigawatt (GW).
“Indonesia sendiri masih butuh listrik. Data center kita butuh 20 gigawatt. Kurang market apa kita?” ucap pria yang juga menjabat menteri energi dan sumber daya mineral (ESDM) tersebut.
Bahlil menegaskan pemerintah akan mendahulukan pemenuhan kebutuhan listrik nasional sebelum membuka peluang ekspor. Menurut dia, prinsip tersebut sejalan dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang menjadi landasan pengelolaan sumber daya ekonomi untuk kemakmuran rakyat.
Baca Juga
Hikmah BBM Seret, DHL Express Indonesia Kirim 4 Mobil Listrik ke Bali
“Saya tetap akan memprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri dulu. Setelah itu baru kita ekspor. Ini sesuai perintah Pasal 33 UUD 1945,” tegas Bahlil.
Terkait rencana ekspor listrik ke Singapura, Bahlil memberikan jawaban singkat ketika ditanya mengenai kelanjutan kerja sama tersebut. “Tergantung kelakuan, baik atau tidak,” ujarnya.
