Permintaan Listrik Data Center Diproyeksi Melonjak 4 Kali Lipat, RMI Ingatkan Risiko Salah Investasi
Permintaan Listrik Data Center Diproyeksi Melonjak 4 Kali Lipat, RMI Ingatkan Risiko Salah Investasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Permintaan listrik untuk pusat data (data center) di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, diproyeksikan meningkat hingga empat kali lipat pada 2035. Lonjakan kebutuhan tersebut membuka peluang investasi di sektor kelistrikan, tetapi juga memunculkan risiko pembangunan pembangkit dan jaringan listrik yang berlebihan apabila tidak diimbangi perencanaan yang adaptif.
Laporan terbaru Rocky Mountain Institute (RMI) bertajuk, "The Importance of Data Center Flexibility in Southeast Asia" menyoroti pentingnya menyesuaikan investasi kelistrikan dengan kebutuhan aktual pusat data. Hal ini karena realisasi kebutuhan listrik dapat berbeda dari kapasitas yang diajukan untuk penyambungan ke jaringan, bergantung pada kesiapan proyek, lokasi, jadwal pembangunan, dan tahapan operasionalnya.
Baca Juga
Direktur Regional RMI untuk Asia Tenggara Wini Rizkiningayu mengatakan, proyeksi pertumbuhan permintaan listrik pusat data tidak seharusnya langsung diterjemahkan menjadi pembangunan pembangkit dan jaringan dalam skala penuh. Investasi yang terlalu cepat berisiko menghasilkan aset yang tidak termanfaatkan secara optimal, sedangkan keterlambatan pembangunan dapat menghambat operasional pusat data.
“Di Indonesia, cadangan kapasitas yang tinggi dan perjanjian jual beli listrik jangka panjang di sistem Jawa-Madura-Bali menunjukkan pentingnya perkiraan kebutuhan listrik yang adaptif dan keputusan investasi yang bertahap,” ujar Wini dalam kajiannya, dikutip Senin (26/10/2026).
Menurut dia, komitmen pembelian listrik jangka panjang dapat mengurangi fleksibilitas sistem dalam merespons perubahan permintaan dan perkembangan teknologi.
“Namun, pengalaman tersebut tidak berarti bahwa pertumbuhan pusat data akan otomatis menimbulkan kelebihan kapasitas baru. Pelajaran utamanya adalah perlunya menguji kebutuhan investasi melalui beberapa skenario beban sebelum mengambil komitmen jangka panjang,” sebut Wini.
Wini menilai, potensi penghematan investasi melalui fleksibilitas beban terlihat dalam pemodelan indikatif RMI untuk sistem kelistrikan Semenanjung Malaysia. Dalam skenario dasar, beban pusat data sekitar 5 gigawatt (GW) pada 2030 diasumsikan beroperasi selama 24 jam sehari.
Kondisi tersebut, bersamaan dengan berakhirnya sebagian perjanjian jual beli listrik PLTU dan berkurangnya kapasitas batu bara, mendorong kebutuhan tambahan kapasitas pembangkit, termasuk gas dan tenaga surya.
Sebaliknya, ketika pusat data diasumsikan mampu menggeser sebagian konsumsi listrik ke luar jam puncak (load shifting), kebutuhan tambahan pembangkit gas berpotensi dihindari atau ditunda hingga 800 megawatt (MW). Skenario tersebut juga membuka peluang integrasi sekitar 4,6 GW kapasitas baru pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan biaya sistem yang lebih rendah dibandingkan skenario beban yang tidak fleksibel.
Baca Juga
Data Center Batam Dihantam Isu Air dan Listrik, Ini Kata Telkom
RMI menegaskan, angka pemodelan tersebut hanya menggambarkan potensi pada sistem kelistrikan Malaysia dan bukan proyeksi kebutuhan pembangkit Indonesia. Namun, pendekatan serupa dapat dipertimbangkan di Indonesia dengan membandingkan skenario pusat data yang menggunakan listrik secara konstan selama 24 jam dan skenario yang memungkinkan sebagian beban dikurangi atau dialihkan pada waktu tertentu.
Salah satu opsi yang dapat dikembangkan adalah skema interkoneksi fleksibel, tanpa harus menghentikan seluruh operasional pusat data. Pekerjaan komputasi yang tidak sensitif terhadap waktu dapat dijadwalkan ulang, sementara baterai dan sistem energi di lokasi dapat dimanfaatkan untuk mengurangi beban jaringan saat periode puncak atau ketika kapasitas jaringan terbatas.
“Dengan perencanaan dan insentif yang tepat, pusat data berpotensi mendukung investasi energi hijau, penyimpanan energi, modernisasi jaringan, dan fleksibilitas dari sisi permintaan, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi digital Indonesia. Namun, manfaat tersebut tidak terjadi secara otomatis,” kata Wini.
