Dewan Rempah Indonesia Ingatkan Pentingnya Nilai Tambah lewat Hilirisasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pengurus Pusat Dewan Rempah Indonesia mengingatkan pentingnya pengembangan industri hilir rempah demi meningkatkan nilai tambah ekonomi komoditas unggulan Indonesia, sekaligus memperluas penetrasi produk rempah Nusantara di pasar global.
Pengurus Pusat Dewan Rempah Indonesia Bidang Promosi Pemasaran dan Advokasi, Sigit Ismaryanto menyebutkan, pengembangan hilirisasi sangat penting mengingat pemanfaatan rempah tidak terbatas pada bumbu masakan, tetapi juga mencakup industri kesehatan, herbal, kosmetik, farmasi, hingga produk perawatan tubuh.
Menurut Sigit, rempah memiliki potensi ekonomi yang besar karena dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, potensi tersebut perlu dikembangkan melalui pengolahan dan inovasi agar menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Baca Juga
Pemerintah Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah, Apa Keunggulannya?
“Kalau tadi kita bedakan menjadi tiga klaster, masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, kata rempah sampai kapan pun akan menjadi satu profitability yang luar biasa dan menjadi kebutuhan yang paling dicari,” ujar Sigit dalam talkshow pada acara Agrinex 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Menurut dia, pengembangan bisnis rempah juga perlu memperhatikan efisiensi produksi, terutama dengan mendekatkan kegiatan usaha ke sumber bahan baku. Langkah tersebut dapat membantu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing harga produk.
Sigit mencontohkan, setelah pandemi Covid-19, dirinya memutuskan untuk memindahkan kegiatan usaha lebih dekat dengan sumber bahan baku. Selain menekan biaya tenaga kerja dan kebutuhan hidup, langkah tersebut dapat meningkatkan efisiensi operasional.
Dia menyebutkan, dalam bisnis ekspor, pengiriman satu kontainer dalam satu bulan dapat memberikan hasil yang cukup untuk membiayai kebutuhan usaha dan kehidupan selama dua hingga tiga bulan. Meski demikian, hasil tersebut bergantung pada skala dan kondisi usaha masing-masing.
Sigit juga mendorong generasi muda untuk melihat bisnis rempah sebagai peluang usaha yang menjanjikan, termasuk melalui kegiatan ekspor. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah bekerja di perusahaan eksportir untuk mempelajari proses bisnis secara langsung sebelum membangun usaha sendiri. “Menjadi eksportir itu nikmat,” tutur dia.
Dia menilai, pengalaman langsung di industri dapat membantu calon pengusaha memahami proses pengumpulan produk, pengelolaan bahan baku, hingga pemasaran ke pasar internasional.
“Pengembangan hilirisasi rempah juga membutuhkan dukungan riset dan inovasi agar produk yang dihasilkan memiliki keunggulan serta dapat memenuhi kebutuhan pasar,” kata dia.
Ketua Pusat Unggulan Iptek - Perguruan Tinggi (PUI PT), Eka Yuli Astuti menjelaskan, pengembangan rempah perlu didukung kajian ilmiah untuk mengidentifikasi potensi pemanfaatannya, mulai dari kuliner hingga kosmetik dan farmasi.
Menurut dia, riset rempah dapat dilakukan dengan menggabungkan kajian manuskrip kuno dan bukti ilmiah modern. Pendekatan tersebut antara lain digunakan untuk mempelajari pemanfaatan rempah dalam pengobatan tradisional serta menguji relevansinya dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.
Selain riset, menurut Eka, pihaknya mengembangkan Galeri Rempah Nusantara yang dilengkapi koleksi rempah dan kode QR berisi informasi mengenai komoditas tersebut. Materi edukasi juga dikembangkan dalam sejumlah bahasa asing untuk memperkenalkan rempah Indonesia kepada masyarakat internasional.
Dia menambahkan, standardisasi juga menjadi aspek penting dalam menjaga daya saing rempah Indonesia. Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah kayu manis Indonesia atau Cinnamomum burmannii.
Baca Juga
Mentan Ingin Malut Kembali Jadi Pusat Rempah Dunia, Siapkan Anggaran Rp 371 Triliun
Dia mengatakan, penguatan bukti penelitian dan standardisasi diperlukan agar karakteristik kayu manis Indonesia dapat dipahami dengan baik di pasar internasional. Upaya tersebut juga penting untuk menjaga posisi produk Indonesia di tengah persaingan dengan komoditas sejenis dari negara lain.
Eka Yuli Astuti menyatakan, melalui penguatan pengolahan, riset, inovasi, dan standardisasi, rempah Indonesia diharapkan tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah yang mampu memperluas peluang ekspor dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha serta petani.
"Nah, sampai ke kegunaannya. Jadi, rempah yang akan kami bahas di masa mendatang ini adalah untuk secara akademik evidence, yang pertama adalah pertama memang untuk kuliner, culinary herb untuk seasoning, untuk bumbu-bumbu. Yang kedua adalah untuk kosmetik., dan ketiga untuk farmasi," papar dia.
