Danantara Minta Rantai Pasok Mineral Kritis Diperkuat, Nilai Tambah Bisa Tembus 642 Kali Lipat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Danantara Development Management Fund (DDMF) menekankan pentingnya memperkuat rantai pasok mineral kritis agar Indonesia dapat memaksimalkan nilai tambah dari sumber daya alamnya. Dengan rantai pasok yang kuat, nilai tambah mineral kritis bisa mencapai 642 kali lipat.
Menurut Managing Director Development Investment DDMF, M Rachmat Kaimuddin, kapasitas pengolahan saja tidak cukup untuk mendorong industrialisasi mineral kritis. Industrialisasi perlu ditopang investasi terkoordinasi, penguatan kemampuan industri domestik, serta kemitraan yang mampu mendukung pembiayaan jangka panjang.
“Untuk memperoleh nilai tambah yang optimal dari mineral kritis, kapasitas pengolahan saja tidak cukup. Diperlukan investasi yang terkoordinasi, kemampuan domestik yang lebih kuat, rantai pasok yang tangguh, serta kemitraan yang mampu memobilisasi modal untuk pembiayaan pembangunan dan investasi swasta,” ujar Rachmat di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Rachmat Kaimuddin menyoroti besarnya peluang peningkatan nilai tambah terlihat dari perbedaan harga bijih nikel dan produk olahannya. Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan, nilai bijih nikel yang berkisar US$30 per ton dapat meningkat menjadi US$3.628 per ton setelah diolah menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), yakni endapan hidroksida campuran yang digunakan sebagai bahan baku baterai. Nilainya meningkat sekitar 120 kali lipat.
Baca Juga
Danantara Fokuskan Investasi 2027 pada Mineral Kritis, Hilirisasi, dan Infrastruktur AI
Nilai tambah tersebut, kata dia, berpotensi meningkat lebih tinggi ketika pengolahan berlanjut ke tahap produk baterai tertentu. Pada tahapan ini, peningkatan nilai dapat mencapai 642 kali lipat yang memperlihatkan besarnya peluang ekonomi jika Indonesia tidak berhenti pada penambangan dan pengolahan awal mineral.
Rachmat Kaimuddin mengungkapkan, potensi itu juga tecermin dalam proyeksi ekspor produk hilirisasi. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai US$50 miliar hingga akhir 2026, melonjak sekitar 45% dibandingkan dengan US$34,5 miliar pada 2024.
Angka tersebut, menurut Rachmat, menunjukkan bahwa manfaat ekonomi mineral dapat terus bertambah sepanjang rantai produksi, mulai dari ekstraksi bahan mentah hingga pengembangan produk bernilai tambah tinggi.
“Karena itu, penguatan industri pengolahan perlu berjalan beriringan dengan pengembangan teknologi, kemampuan manufaktur, dan akses pasar,” tandas dia.
Dia menjelaskan, salah satu peluang besar berikutnya berada pada pengembangan ekosistem baterai untuk kendaraan listrik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan kebutuhan baterai di Indonesia mencapai 108,2 gigawatt-jam (GWh) pada 2030.
Rachmat Kaimuddin mengemukakan, untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik, kebutuhan kapasitas baterai diproyeksikan mencapai 780 GWh. Sementara itu, kapasitas bahan baku yang tersedia saat ini setara dengan 373 GWh, sehingga masih terdapat kesenjangan sekitar 407 GWh yang membuka peluang investasi baru.
Dia menekankan, kesenjangan kapasitas tersebut membutuhkan pembiayaan, teknologi, dan kolaborasi lintas negara agar rantai nilai mineral menjadi lebih kuat. Negara-negara penghasil mineral perlu memastikan manfaat ekonomi dari transisi energi tidak hanya terkonsentrasi di negara yang menguasai manufaktur dan teknologi.
“Negara-negara ASEAN dan Afrika memiliki kepentingan yang sama agar nilai ekonomi transisi energi tidak hanya mengalir ke pusat manufaktur dan teknologi, tetapi juga memperkuat kemampuan industri negara penghasil,” tutur Rachmat.
Dia menegaskan, dalam konteks tersebut, keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari imbal hasil finansial semata. Investasi juga perlu meningkatkan kapasitas ekonomi, produktivitas, dan daya saing industri, sekaligus memperluas distribusi manfaat pembangunan kepada masyarakat.
Baca Juga
Permintaan Mineral Kritis Naik hingga 2030, Indonesia Hadapi Momentum Besar
Dengan demikian, menurut dia, mineral kritis memiliki peran lebih luas alih-alih sekadar sumber pendapatan ekspor. Pengelolaan yang tepat dapat menjadikannya instrumen transformasi ekonomi melalui penguatan industri nasional, penguasaan teknologi, dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Rachmat mengingatkan, peluang terbesar Indonesia bukan hanya terletak pada besarnya produksi mineral, melainkan pada kemampuan mengubah keunggulan sumber daya tersebut menjadi kekuatan industri yang kompetitif.
“Dengan investasi berkualitas, rantai pasok yang tangguh, dan industrialisasi yang semakin mendalam, mineral kritis berpotensi menjadi salah satu pengungkit bagi Indonesia untuk meningkatkan posisi dalam peta industri global,” tegas dia. (ant)
