Survei Kadin: Karhutla Ganggu Bisnis, Investor Masih 'Wait and See'
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu bencana yang mengganggu kegiatan usaha di Indonesia. Survei Kadin Indonesia Institute mencatat 57,9% pelaku usaha terdampak bencana alam atau gangguan lingkungan dalam 12 bulan terakhir.
Direktur Insights Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian mengatakan, dampak bencana tidak hanya meningkatkan biaya operasional, tetapi juga menghambat penjualan, logistik, hingga investasi. Karhutla menjadi salah satu ancaman utama, terutama bagi sektor properti dan konstruksi.
Berdasarkan survei Kadin Business Pulse kuartal III 2026, sebanyak 13% responden yang terdampak bencana melaporkan karhutla sebagai gangguan yang mereka alami. Gangguan berbasis iklim secara keseluruhan mencakup 39,1% pelaku usaha.
“Sentimen investasi yang paling ya terdampak dari bencana alam sekarang itu adalah sektor real estate,” kata Fakhrul dalam pemaparan hasil survei Kadin Indonesia Institute di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Baca Juga
Dampak bencana juga terlihat dari kenaikan biaya operasional yang dilaporkan 13,5% responden, disusul penurunan penjualan sebesar 11,8% dan gangguan transportasi serta logistik sebesar 10,8%. Sektor pertanian, konstruksi, dan transportasi-pergudangan termasuk yang mengalami tekanan biaya operasional cukup besar.
Di sektor properti, sebanyak 12% responden melaporkan sentimen investasi terdampak bencana. Kondisi ini menambah tantangan bagi dunia usaha ketika rencana investasi enam bulan ke depan menunjukkan penurunan sentimen dalam empat survei terakhir.
“Dari tadinya bisnis agak dilihat agak berat, itu berubah menjadi wait and see,” ujar Fakhrul. Menurut dia, meredanya tekanan bisnis belum otomatis mendorong pelaku usaha menjadi lebih optimistis.
Kesiapan menghadapi bencana juga masih menjadi pekerjaan rumah. Survei mencatat hanya 43,7% pelaku usaha menyatakan siap menghadapi gangguan akibat bencana alam atau cuaca ekstrem, dengan sektor konstruksi menjadi salah satu yang paling tidak siap.
Di sisi lain, Kadin Indonesia Institute mendorong pemerintah memperkuat kepastian arah kebijakan, memperluas akses pembiayaan, serta meningkatkan ketahanan usaha terhadap bencana. Sebanyak 22,4% responden mengharapkan sistem peringatan dini, sementara 18,6% meminta perlindungan dan pemulihan infrastruktur, transportasi, serta jalur logistik.
