Belajar dari Bogor-Semarang, MTI Ungkap 5 Tantangan Proyek Trem Bali
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijiwarno mengungkap lima hal yang perlu diperhatikan pemerintah daerah (pemda) Bali agar rencana pembangunan trem listrik rute Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai-Kuta-Canggu tidak mangkrak seperti proyek serupa di Bogor dan Semarang.
Menurut Djoko, penyebab utama wacana trem di Kota Bogor dan Semarang mangkrak atau berganti arah adalah besarnya biaya investasi sarana dan prasarana, terbatasnya ruang milik jalan (right of way/RoW), serta kompleksitas skema pembiayaan operasional dan subsidi.
"Proyek trem listrik berbasis baterai rute Bandara Ngurah Rai–Kuta–Canggu membutuhkan perhatian khusus dari Pemda Bali (Pemprov Bali dan Pemkab Badung) agar rencana tersebut tidak berhenti sebatas kesepakatan di atas kertas," katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2026).
Djoko menggarisbawahi lima titik kritis yang perlu diperhatikan pemerintah daerah untuk memastikan proyek tersebut dapat direalisasikan.
Pertama, kejelasan sterilisasi jalur dan penataan ruang milik jalan. Karakteristik koridor Kuta-Canggu yang padat dan sempit menjadi tantangan bagi pembangunan jalur trem. Pemda perlu memastikan penataan lahan dan pelebaran jalan benar-benar dapat merealisasikan jalur khusus trem.
"Pemda harus memastikan porsi penataan lahan/pelebaran jalan yang disiapkan benar-benar merealisasikan jalur khusus (dedicated lane/right of way)," ujar Djoko.
Penggunaan teknologi trem baterai tanpa kabel listrik atas dinilai sesuai dengan estetika kawasan wisata. Namun, sterilisasi perlintasan dan penataan ruang fisik jalan tetap diperlukan agar trem memiliki ketepatan waktu yang andal.
Kedua, integrasi angkutan pengumpan dan angkutan jalan. Djoko menuturkan, pembangunan moda berbasis rel tanpa memperkuat jaringan bus dan angkutan umum pendukung berisiko menciptakan sistem yang terisolasi dan sepi penumpang.
Baca Juga
Menhub Wanti-Wanti Proyek Trem Bali: Jangan Cuma di Atas Kertas
"Pemda Bali, jangan menomorduakan angkutan umum berbasis jalan (Trans Metro Dewata)," imbuhnya.
Trem rute Bandara Ngurah Rai-Canggu juga perlu terintegrasi dengan jaringan bus kota, taksi resmi, serta layanan pengumpan berupa mikrolet atau shuttle menuju titik-titik akomodasi dan hotel.
Penataan ekosistem transportasi lokal juga diperlukan, termasuk mengakomodasi atau mentransisikan penyedia jasa transportasi setempat agar tidak memicu konflik sosial saat trem beroperasi.
Ketiga, kepastian kelayakan finansial dan keberlanjutan subsidi. Djoko menyebut biaya investasi atau capital expenditure (capex) yang tinggi tidak sebanding dengan kemampuan APBD. Sementara itu, skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) kerap tidak mencapai kesepakatan kelayakan finansial.
"Pemda Bali harus memetakan secara jelas pembagian beban anggaran antara APBN, APBD Provinsi/Kabupaten, KAI, dan pihak swasta," jelasnya.
Dia juga menyebut potensi pendanaan daerah, seperti pengalokasian sebagian Pungutan Wisatawan Asing (Foreign Tourist Levy) atau Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) jasa transportasi dan akomodasi untuk mendukung kewajiban pelayanan publik atau Public Service Obligation (PSO) maupun subsidi operasional.
Keempat, manajemen dampak selama konstruksi. Kekhawatiran terhadap kemacetan dan terganggunya kegiatan ekonomi lokal selama penggalian atau pemasangan rel menjadi salah satu tantangan pembangunan trem.
Djoko menjelaskan, kawasan Kuta-Canggu merupakan urat nadi pariwisata. Ihwal itu, pemda bersama kepolisian dan dinas perhubungan perlu menyiapkan rekayasa lalu lintas dan tahapan konstruksi secara ketat.
Kelima, kejelasan regulasi dan kelembagaan operasional. Djoko menyoroti perlunya kepastian entitas pemegang konsesi, operator yang akan menjalankan layanan, serta kerangka regulasi pengoperasian kereta api perkotaan di tingkat daerah.
"Pemda perlu segera memformalkan kelembagaan (misal melalui BUMD konsorsium) yang bertindak sebagai Transport Authority di Bali untuk mengelola integrasi tarif, jadwal, dan keandalan layanan secara profesional," katanya.
Penandatanganan nota kesepahaman dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan pendampingan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) disebut sebagai langkah awal.
Djoko menegaskan, proyek trem listrik Bandara Ngurah Rai-Canggu tidak hanya berkaitan dengan penerapan teknologi transportasi modern, tetapi juga keberanian politik dan tata kelola pemerintah daerah.
"Tanpa langkah konkret dalam mengurai lima titik kritis tersebut, impian menghadirkan transportasi publik yang andal dan berkelanjutan di Pulau Dewata hanya akan kembali menambah daftar panjang wacana pembangunan yang mangkrak," lugasnya.
Menteri Perhubungan Dukung Proyek Trem Bali
Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mendukung rencana pengembangan transportasi berbasis rel dari Canggu menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Namun, dia meminta proyek tersebut segera direalisasikan dan tidak hanya berhenti dalam kajian atau dokumen.
"Kita sih mendukung apapun itu sepanjang untuk melayani masyarakat maupun wisatawan di Bali. Yang paling penting kan mengurangi kemacetan," kata Dudy saat media briefing di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Dudy menilai, moda transportasi yang digunakan dalam proyek tersebut tidak menjadi persoalan selama dapat melayani masyarakat dan wisatawan serta mengurangi kemacetan di Bali.
"Mau pakai balon udara, mau pakai kereta kayak LRT, apapun kita selalu mendukung. Itu aja, sih," ujarnya.
Menurut Dudy, hal yang menjadi perhatian utama adalah kecepatan realisasi proyek transportasi tersebut. "Tapi yang paling penting buat saya juga adalah harus cepat. Jangan di atas kertas aja," tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono mengungkapkan, moda yang tengah dikaji untuk rute tersebut berbentuk seperti trem. "Kayak trem, dan menyusuri pantai," bebernya.
Dudy kemudian menggambarkan konsep trem tersebut dengan moda transportasi yang pernah digunakan pada masa kolonial.
"Ya kayak dulu, zaman Belanda yang di sampingnya ada orang naik sepeda," ungkapnya.
Terkait aspek keselamatan karena trem akan berdampingan dengan kendaraan roda dua dan roda empat, Allan mengatakan, trem tersebut akan beroperasi dengan kecepatan rendah. "Trem pelan kayak di Solo," katanya.
Sebagai gambaran, trem Batara Kresna di Solo memiliki kecepatan sekitar 10-20 kilometer per jam (km/jam) di koridor Jalan Slamet Riyadi. Kecepatannya mencapai 30-40 km/jam ketika keluar dari wilayah perkotaan menuju Wonogiri.
PT KAI tengah mengkaji pengembangan transportasi berbasis rel dari Canggu menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Kajian tersebut dilakukan menyusul tingkat kemacetan di jalur Canggu-Bandara Ngurah Rai yang mencapai hampir 15 km.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba menyatakan, penjajakan pengembangan transportasi berbasis rel di Bali mencakup sejumlah pilihan moda, mulai dari Light Rail Transit (LRT) hingga trem listrik.
"Khusus untuk Bali, MoU isinya adalah mempersiapkan, itu Canggu ke bandara (I Gusti Ngurah Rai). Karena tingkat kemacetannya sudah sangat luar biasa, itu sekitar hampir 15 kilometer," ungkap Anne saat konferensi pers di Stasiun BNI City, Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Namun, kata Anne, pilihan moda tersebut masih akan dikaji lebih lanjut dengan mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik wilayah Bali.
