47% Pembelian Apartemen Masih Andalkan KPR
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id- Pakar properti dari Colliers Indonesia mengungkapkan hampir separuh transaksi pembelian apartemen di Indonesia masih menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto menyampaikan, berdasarkan data per 7 Oktober 2026, sebanyak 47% transaksi pembelian apartemen menggunakan KPR. Angka tersebut naik sekitar 4% secara kuartalan.
"Angka 47% transaksi menggunakan KPR, jadi naik sekitar 4% quarter on quarter, sementara pembelian tunai itu ada sekitar 29% dan cicilan tunai sekitar 24%," kata Ferry dalam konferensi pers Outlook Property Market Q3 2026, Rabu (7/10/2026).
Sementara itu, transaksi pembelian apartemen secara tunai mencapai 29%. Adapun pembelian dengan skema cicilan tunai sebesar 24%.
Ferry menambahkan, kondisi tersebut menunjukkan keterjangkauan pembelian apartemen tidak lagi hanya dilihat dari harga per meter persegi.
Menurutnya, konsumen kini turut mempertimbangkan kebutuhan dana di awal pembelian hingga besaran cicilan yang harus dibayarkan setiap bulan.
"Jadi bagi konsumen yang jauh lebih terasa justru berapa down payment yang mereka harus siapkan, kemudian berapa cicilan setiap bulannya dan berapa bunga KPR-nya," ujar Ferry.
Selain uang muka atau down payment (DP), biaya transaksi awal serta pilihan bank yang bekerja sama dengan pengembang juga menjadi pertimbangan konsumen.
Ferry juga menyampaikan, terdapat perbedaan tingkat bunga kredit atau lending rate di antara kelompok bank. Ihwal itu, kerja sama antara pengembang dan perbankan menjadi salah satu faktor dalam pembiayaan pembelian apartemen.
Dikatakan, skema pembiayaan kini mulai menjadi bagian dari produk apartemen itu sendiri. Pengembang dapat bekerja sama dengan bank untuk menawarkan struktur KPR yang lebih menarik bagi calon pembeli.
"Jadi developer bisa bekerja sama dengan bank untuk menawarkan struktur KPR yang lebih menarik, menekankan kebutuhan cash di awal dan membuat KPR yang lebih terkelola gitu ya," imbuh Ferry.
*Service Apartment Jakarta Tetap Resilien*
Di sisi lain, segmen service apartment di Jakarta dinilai tetap menunjukkan ketahanan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)
Ferry mencatat tingkat hunian service apartment di Jakarta pada kuartal III 2026 mencapai 61%. Angka tersebut naik sekitar 1,6% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sementara itu, rata-rata tarif sewa service apartment relatif stabil di level Rp 457.000 per meter persegi per bulan.
"Service apartment ini justru resilient atau kuat di tengah pelemahan rupiah. Sementara rata-rata harga tarif sewa itu relatif stabil di angka Rp 457.000 per meter persegi per bulan," papar Ferry.
Menurut Ferry, pelemahan rupiah memberikan tambahan daya beli bagi penyewa asing atau ekspatriat yang mendapatkan housing allowance dalam denominasi dolar AS.
"Ketika rupiah melemah dengan budget dolar yang sama mereka sebenarnya mempunyai daya beli rupiah yang lebih besar," pungkasnya.
