Harga Emas Menguat Dekati US$ 4.160 Seusai Data NFP AS Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas menguat mendekati US$ 4.160 per troy ounce pada perdagangan awal Asia Senin (5/10/2026) setelah data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan menekan dolar AS dan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Data pekerjaan tersebut menjadi perhatian pasar karena pelemahan pasar tenaga kerja dapat mengurangi tekanan bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Kondisi tersebut berpotensi mendukung emas yang tidak memberikan bunga ketika daya tarik aset berbasis dolar menurun.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS atau Bureau of Labor Statistics mencatat nonfarm payrolls (NFP) hanya bertambah 29.000 pada September. Angka tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 90.000. Pertumbuhan pekerjaan pada Agustus juga direvisi menjadi 133.000 dari sebelumnya 162.000. Data tersebut memperkuat perhatian pelaku pasar terhadap kondisi pasar tenaga kerja AS dan arah kebijakan moneter berikutnya.
Baca Juga
Harga Emas Naik Mendekati US$ 4.180, 'Yield Treasury' AS Turun
Pasar memangkas taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga turun menjadi sekitar 22,1%, dibandingkan sekitar 70% pada awal pekan.
Inflasi dan Konflik AS-Iran Jadi Risiko
Meski data pekerjaan AS memberikan ruang bagi harga emas untuk menguat, pasar masih menghadapi risiko dari kenaikan harga minyak di tengah konflik AS-Iran. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan membatasi ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan pada Minggu (4/10/2026) bahwa Selat Hormuz menjadi fokus utama dalam negosiasi Iran untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi bagian penting dari perdagangan energi global. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memengaruhi pasokan minyak dan mendorong kenaikan harga energi.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga mengatakan Teheran tidak akan mundur dari persyaratan untuk membuka kembali jalur air tersebut. Dia menyebut sejumlah usulan terbaru dari AS sebagai "tuntutan sepihak".
Baca Juga
Analis UOB Group menyebut harga emas spot berada di US$ 4.156 per troy ounce karena imbal hasil riil yang tinggi masih membatasi kenaikan harga emas batangan. Dalam perdagangan sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$ 4.219 per troy ounce sebelum berbalik melemah dan ditutup 0,6% lebih rendah di US$ 4.157 per troy ounce. UOB Group menilai imbal hasil riil yang tinggi masih menjadi faktor yang menahan pergerakan emas.
Dari sisi ekonomi, UOB Group juga mencatat indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) AS naik 0,3% secara bulanan pada Agustus, sesuai dengan perkiraan pasar. Secara tahunan, tingkat pertumbuhan PCE turun menjadi 3,4% dari 3,7% pada bulan sebelumnya.
