Harga Emas Masih Melemah Seusai Data Inflasi AS Dirilis
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia memangkas kerugian pada perdagangan Kamis (28/5/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) dirilis sesuai ekspektasi pasar. Namun, logam mulia tersebut masih mencatat penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut di tengah meningkatnya skeptisisme pasar terhadap arah suku bunga dan perkembangan geopolitik Timur Tengah.
Harga emas spot turun 0,6% menjadi US$ 4.428,69 per ons setelah sempat menyentuh level terendah sejak akhir Maret pada awal perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS melemah 0,5% menjadi US$ 4.426,20 per ons.
Baca Juga
Ekonom Indef: Emas Kini Berevolusi Menjadi Instrumen Keuangan Strategis
Data ekonomi terbaru menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS naik 3,8% secara tahunan pada April, sejalan ekspektasi pasar. Secara bulanan, indeks PCE meningkat 0,4% setelah sebelumnya melonjak 0,7% pada Maret.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek mengatakan data tersebut memberikan sedikit ruang bagi harga emas karena memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS kemungkinan mempertahankan suku bunga pada level saat ini dibanding kembali memperketat kebijakan moneternya. “Harga emas masih bisa turun signifikan dari sini karena meskipun perang berhenti sekarang, harga energi bisa tetap lebih tinggi,” kata Melek dilansir CNBC.
Tekanan terhadap harga emas juga datang dari risalah rapat Federal Reserve (The Fed) pada 28-29 April yang dirilis pekan lalu. Dokumen tersebut menunjukkan semakin banyak pejabat bank sentral AS yang terbuka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan.
Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil. Ketika suku bunga naik, investor cenderung memindahkan dana ke aset yang memberikan return lebih tinggi seperti obligasi pemerintah AS.
Analis Pasar City Index Fawad Razaqzada mengatakan ketidakpastian geopolitik kini tidak lagi otomatis mendukung reli harga emas karena lonjakan harga energi justru memperbesar kekhawatiran inflasi.
“Masalah bagi emas adalah ketidakstabilan geopolitik tidak lagi beroperasi secara terisolasi. Harga energi yang lebih tinggi sekali lagi memicu kekhawatiran inflasi, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah sedikit lebih tinggi dan memperkuat dolar pada saat yang sama,” ujar Razaqzada.
Baca Juga
Harga Emas Ambles 1%, Pasar Khawatir The Fed Kerek Suku Bunga
Dari sisi geopolitik, Iran menargetkan pangkalan udara AS setelah Washington menyerang operasi pesawat nirawak Iran di dekat Selat Hormuz. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump juga menolak proposal kompromi yang disebut-sebut sedang dibahas dengan Teheran.
Selain emas, harga logam mulia lainnya juga bergerak melemah. Harga perak spot turun 1,2% menjadi US$ 73,69 per ons. Platinum melemah 1,6% menjadi US$ 1.887,75 per ons, sementara palladium anjlok 3,1% menjadi US$ 1.347,31 per ons.

