Harga Emas Tertekan Kenaikan Imbal Hasil Treasury AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas turun mendekati US$ 4.150 pada sesi awal perdagangan Asia Kamis (1/10/2026), tertekan kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) atau Treasury. Pelaku pasar menunggu data ketenagakerjaan AS September yang akan menjadi petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik sekitar 4 basis poin menjadi 5,298% pada perdagangan sebelumnya, sedangkan imbal hasil tenor 30 tahun meningkat hampir 5 basis poin menjadi 5,642%. Pada saat yang sama, harga minyak menguat setelah pembicaraan Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang terhenti.
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan inflasi karena mendorong biaya di berbagai sektor ekonomi. Kondisi tersebut menjadi tekanan tambahan bagi emas karena kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan kenaikan harga energi membuat pasar obligasi kembali tertekan dan ikut menekan harga logam mulia.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 16.000 di Tengah Penguatan Dolar AS
"Dengan kenaikan harga energi, obligasi telah kehilangan keuntungan dan kembali menekan harga logam; ini adalah hari yang mengecewakan bagi emas meskipun kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Oktober telah turun secara substansial setelah hasil PCE inti yang lebih lemah dari perkiraan," kata Wong dilansir FX STreet, .
Data inflasi AS sebenarnya memberikan sinyal yang lebih lunak. Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) naik 3,4% secara tahunan pada Agustus, setelah angka Juli direvisi menjadi 3,4%. Angka tersebut berada di bawah konsensus pasar sebesar 3,7%.
PCE inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, juga meningkat 3,0% secara tahunan pada Agustus setelah angka Juli direvisi menjadi 3,0%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 3,3%.
Analis OCBC mencatat harga emas memperpanjang penurunannya hingga mencapai level terendah dalam 7 minggu. Menurut mereka, kenaikan harga minyak memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi dan meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
OCBC juga melihat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan dolar AS sebagai faktor yang menambah tekanan terhadap emas. Penembusan harga di bawah level US$4.200 dinilai dapat memperburuk tekanan teknikal di pasar.
Dalam jangka pendek, pergerakan harga minyak dan respons pasar terhadap kebijakan suku bunga menjadi perhatian utama. Data ekonomi AS yang lebih lemah, termasuk PCE inti dan data nonfarm payrolls atau NFP, berpotensi membantu harga emas menemukan stabilitas apabila diikuti dengan penurunan imbal hasil obligasi. Sebaliknya, kenaikan harga minyak dan imbal hasil Treasury berpotensi mempertahankan tekanan terhadap logam mulia tersebut.
Pesan Hawkish Pejabat The Fed
Tekanan terhadap emas juga datang dari pernyataan pejabat The Fed yang masih mempertahankan perhatian terhadap inflasi. Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari mempertanyakan apakah kebijakan moneter AS saat ini benar-benar sudah cukup ketat untuk menekan inflasi.
Kashkari juga menyoroti kemungkinan bahwa tingkat suku bunga netral, yaitu tingkat bunga yang tidak mendorong atau menahan pertumbuhan ekonomi, berada pada level yang lebih tinggi.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik Rp 15.000, Pasar Pantau Arah Suku Bunga The Fed
Dalam proyeksinya, Kashkari memperkirakan masih terdapat ruang untuk satu kenaikan suku bunga pada tahun ini dan satu kenaikan tambahan pada 2027. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebagian pejabat The Fed masih mempertimbangkan kebijakan moneter yang ketat meskipun data inflasi terbaru menunjukkan perlambatan.
Kashkari juga menyoroti kuatnya konsumsi masyarakat dan kondisi pasar tenaga kerja. Menurutnya, ketahanan ekonomi AS membuat bank sentral perlu berhati-hati dalam menentukan arah pelonggaran kebijakan.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS September yang dijadwalkan terbit Jumat (2/10/2026). Data tersebut akan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor dalam menilai kekuatan ekonomi dan ruang bagi perubahan kebijakan The Fed.
