Rupiah Menguat ke Rp 17.910 Per Dolar AS, Imbal Hasil US Treasury 10 Tahun Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (6/10/2026) pagi. Rupiah menguat 0,04% dan berada di posisi Rp 17.910 per dolar AS.
Sejumlah nilai tukar mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak berbeda terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,03%, rupee India menguat 0,01%, dan baht Tailan menguat 0,03%. Sementara itu, yen Jepang dan ringgit Malaysia melemah 0,01%, dolar Singapura melemah 0,03%, dan peso Filipina melemah 0,27%.
Baca Juga
Rupiah Melemah di Awal Pekan, Diproyeksikan Penguatan Terbatas
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 3,4 basis poin (bps) menjadi 5,30%, sementara imbal hasil US Treasury 2 tahun naik 1,0 bps menjadi 4,84%.
Imbal hasil Treasury masih berada di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir karena kekhawatiran fiskal, tingginya pasokan penerbitan surat utang, dan risiko inflasi yang persisten terus mengimbangi pelemahan data pasar tenaga kerja.
Sementara itu, indeks DXY menguat 0,23% menjadi 102,17 dan telah menguat 3,91% ytd, didukung oleh tingginya imbal hasil AS dan pelemahan euro.
Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih relatif rendah, dengan pasar memperkirakan probabilitas sekitar 24% untuk kenaikan 25 bps pada pertemuan FOMC 27–28 Oktober, turun dari sekitar 70% sepekan sebelumnya setelah laporan payrolls September 2026 yang lemah.
Namun, kenaikan tajam pada komponen harga dalam ISM Services menunjukkan bahwa risiko inflasi masih tinggi, sehingga peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut pada akhir tahun masih terbuka.
Baca Juga
Banggar dan Pemerintah Sepakati Asumsi APBN 2027: Ekonomi 6%, Rupiah Rp 17.500, Inflasi 2,5%
Andry mencatat bahwa harga minyak mentah Brent turun 1,89% menjadi US$ 100,3 per barel, seiring meningkatnya ekspor minyak mentah dari Timur Tengah dan komitmen negara-negara G7 untuk melepaskan 100 juta barel dari cadangan darurat, sehingga meredakan kekhawatiran pasokan dalam jangka pendek. Harga Brent masih berada di sekitar US$ 100,3 per barel pagi ini.
Namun, serangan Houthi yang masih berlangsung, pertempuran di sekitar Selat Bab el-Mandeb, serta ketegangan AS–Iran yang belum terselesaikan terus mempertahankan geopolitical risk premium pada harga minyak.
