Harga Emas Tersandung Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melemah pada Selasa (15/9/2026), tertekan penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) atau treasury. Kenaikan harga minyak mentah juga memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pekan ini.
Harga emas turun 0,3% menjadi US$ 4.285,88 per ons, setelah menyentuh level terendah sejak 7 Agustus pada perdagangan Senin (14/9/2026). Sementara itu, kontrak berjangka emas AS melemah 0,6% menjadi US$ 4.325,80 per ons.
Baca Juga
Saham Merdeka Gold (EMAS) Mendadak Jatuh Dalam, Ini Faktor Pemicu Utamanya
“Harga energi yang lebih tinggi menyebabkan inflasi lebih besar. Inflasi yang lebih besar dapat menyebabkan suku bunga lebih tinggi. Itu tidak baik untuk emas yang berada dalam kisaran terbatas. Emas justru bisa mengalami penurunan lebih lanjut jika suku bunga terus naik,” kata ahli strategi pasar senior StoneX, Daniel Pavilonis dilansir CNBC.
Pelaku pasar kini menanti keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (16/9/2026) pukul 14.00 waktu Eastern Daylight Time (EDT), atau dengan 18.00 GMT.
Pasar keuangan memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4,00%. Basis poin merupakan satuan untuk mengukur perubahan suku bunga, dengan 100 basis poin setara 1%.
Pavilonis mengatakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga telah tercermin dalam harga. Namun, arah pernyataan The Fed setelah keputusan tetap menjadi faktor penting bagi pergerakan emas.
“Saya rasa banyak kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga sudah ada, Ini benar-benar bergantung pada apa yang akan dikatakan The Fed setelahnya. Apakah mereka akan terus menaikkan suku bunga? Apakah mereka akan memantau situasinya? Secara keseluruhan, ini bukan pertanda baik untuk emas,” ujar Pavilonis.
Penguatan dolar AS turut menekan harga emas. Emas diperdagangkan dalam denominasi dolar AS sehingga penguatan mata uang tersebut membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Selain itu, imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007.
Analis ING dalam sebuah catatan mengatakan sebagian besar risiko dari kebijakan The Fed yang lebih ketat atau hawkish tampaknya telah tercermin dalam harga emas. Hawkish merupakan sikap kebijakan moneter yang cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk mengendalikan inflasi.
“Sebagian besar risiko kebijakan hawkish The Fed tampaknya sudah tercermin dalam harga. Namun, emas bisa tetap rentan jika para pembuat kebijakan memberi sinyal bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” tulis analis ING.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Turun Rp 4.000, Ini Daftar Harga Lengkap 0,5 Gram-1 Kg
Harga minyak mentah sedikit menguat setelah serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi menyebabkan Pipa Timur-Barat kerajaan tersebut tidak beroperasi. Gangguan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa kerusakan pada infrastruktur energi dan jalur transportasi membutuhkan waktu lebih lama untuk diperbaiki. Kondisi itu berpotensi memengaruhi pasokan energi dan menambah tekanan terhadap inflasi.
Sementara itu, harga perak naik 0,7% menjadi US$ 63,64 per ons. Platinum menguat 0,8% menjadi US$ 1.773,13 per ons, sedangkan paladium naik 0,5% menjadi US$ 1.299,76 per ons.
