Mencegah Pertanian Kehilangan Pewaris
Oleh: Dadang Syamsul Munir – Direktur Botani Seed dan Sekjen Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo)
INVESTORTRUST - Masa depan sektor pertanian Indonesia secara perlahan tapi pasti sedang menghadapi ancaman : krisis regenerasi. Di satu sisi, visi besar Indonesia Emas 2045 menuntut kedaulatan pangan yang kokoh. Namun di sisi lain, data lapangan menunjukkan bahwa para petani kita semakin menua, sementara generasi muda masih belum antusias masuk ke sektor hulu (budidaya di sawah dan ladang).
Tulisan ini menelaahakar masalah krisis demografi tersebut. Mengapa anak muda masih menjauh daripertanian, serta menawarkanakselerasi peta jalan yg sudah mulai dirintis secara terbatas dan/atau parsial di Indonesia, agarsektor agribisnis semakin berdaya saing dan diminati generasi penerus.
Realitas Demografi: Petani Menua dan Lahan Menyusut
Berdasarkan Sensus Pertanian 2023 (ST2023) dari Badan Pusat Statistik (BPS), wajah pertanian Indonesia didominasi oleh generasi senior:
Baca Juga
KKP Gagalkan Penyelundupan 52.000 Ekor Benih Lobster Senilai Rp 7,8 miliar
Sebanyak 48,30% petani kita kini berusia di atas 55 tahun. Sebaliknya, partisipasi petani sangat muda (di bawah 25 tahun) hanya 0,68%, dan kelompok usia di bawah 26 tahun hanya 2,14%.
Dari total 28,19 juta petani, memang ada 6,18 juta petani milenial, namun sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa dan banyak yang bergerak di sektor hilir atau pertanian perkotaan (urban farming).
Krisis umur ini diperparah oleh fragmentasi lahan. Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) gurem (dengan kepemilikan lahan di bawah 0,5 hektare) melonjak menjadi 16,89 juta rumah tangga (mencakup 62,05% dari total petani pengguna lahan). Akibatnya, sulit bagi petani untuk mencapai skala ekonomi yang mensejahterakan.
Mengapa Anak Muda Enggan Bertani? (Anatomi Disinsentif Ekonomi)
Keengganan generasi muda turun ke sektor hulu bukanlah tanpa alasan. Ada pertimbangan ekonomi yang rasional:
Pertama, Jurang Produktivitas Tenaga Kerja: Hasil studi IRRI dan Word Bank menunjukkanImbal hasil bersih per Hari Orang Kerja (HOK) di Indonesia (sebagai contoh di Jawa Barat) hanya US$ 8,84 per HOK. Angka ini terpaut sangat jauh dibanding Vietnam (US$ 49,13) atau Thailand (US$ 62,52), artinya Imbal hasil per HOK Vietnam dan Thailand 5,5 - 7.0 kali lipat diatas Indonesia. Tingginya ketergantungan pada tenaga fisik manual di Indonesia (96,2 HOK/ha) membuat produktivitas tenaga kerja kita tertinggal jauh dari negara tetangga yang sudah melakukan mekanisasi masif, dimanakebutuhan tenaga kerja fisikmanual mereka hanya rata2 9,7 HOK per ha.
Kedua, Biaya Produksi Tinggi & Beban Upah: Saat ini, produksi pangan kita ditopang oleh hidden labor buffer—buruh tani muda pedesaan yang mendapat upah harian sekitar Rp100.000 untuk setengah hari kerja. Untuk komoditas padi, komponen upah menyumbang 28%–32% dari total biaya ekonomi, membuat biaya produksi Gabah Kering Panen (GKP) Indonesia berada di kisaran Rp 4.000–Rp5.000 per kg. Sebagai pembanding , biaya GKP di Vietnam hanya sekitar Rp1.679 -2 000/kg dan Thailand Rp2.291-2 500/kg berkat efisiensi pemanfaatan mesin pertanian dan sistem klaster.
Ketiga, Kendala Modal & Teknologi (AgTech Friction): Studi Mackinsey menunjukkan sekitar 47% petani di Asia menghadapi kendala mahalnya investasi awal teknologi, serta keraguan terhadap tingkat pengembalian modal (Return on Investment-ROI).
Pelajaran dari Pengalaman Internasional
Untuk keluar dari jebakan ini, Indonesia dapat mengakselerasi secara komprehensif sejumlah model sukses di Asia , dimana Indonesia sebenarnya sudah menginisiasisi-nya, antara lain:
1) Tiga Pilar IFAD (Productivity, Connectivity dan Agency): Menekankan pentingnya fasilitasi(pemberdayaan pemuda melalui kepastian hak sewa/kelola lahan).
2) Skema Transisi Lahan Taiwan: Memfasilitasi alih kelola lahan dari petani senior kepada pemuda melalui sewa jangka panjang dengan jaminan sosial.
3) Model India & Vietnam: Mengkonsolidasikan lahan gurem secara kolektif (Custom Hiring Centers dan Large Field), yang terbukti menghemat penggunaan benih hingga 40% dan pupuk kimia hingga 40%.
4) Model China (AgTech-as-a-Service/UPJA ): Menjadikan pemuda sebagai wirausaha penyedia jasa teknologi berbayar (operator alsintan dan drone pertanian).
Enam Pilar Operasional Peta Jalan Agribisnis
Guna membangun ekosistem pertanian modern yang menarik bagi generasi muda, enam pilar aksi strategisnampaknya perlu mendapatkan perhatian:
Pilar 1: Kebijakan Lahan & Hak Kelola. Memfasilitasi kemitraan sewa lahan jangka panjang antara petani senior dan pemuda tani melalui Bank Tanah, Koperasi, atau Gapoktan, serta pemanfaatan perhutanan sosial.
Pilar 2: Digitalisasi Berbasis Jasa (AaaS). Mendorong pemuda menjadi penyedia jasa alsintan (Unit Pengelola Jasa Alsintan / UPJA) seperti jasa olah tanah, panen, hingga penyemprotan drone untuk menekan biaya operasional hingga 30%.
Pilar 3: Logistik Rantai Dingin & Penjadwalan Tanam. Memperkuat infrastruktur cold storage di perdesaan dan penjadwalan tanam (staggered planting/multi cropping) guna menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Pilar 4: Korporatisasi Tani. Mengonsolidasikan petani gurem dalam wadah Koperasi Multi Pihak /Koperasi Agregator yang terhubung dengan Rumah Produksi Bersama (RPB). RMU dan Rumah Produksi Hilirisasi lainnya.
Pilar 5: Pembiayaan Inklusif. Menerapkan skema pembiayaan seperti KUR Klaster Non-Tunai (In-Kind Pay-at-Harvest) yang dipadukan dengan tumpang sari (multicropping).
Pilar 6: Transformasi Buruh Tani & Green Jobs. Meningkatkan kapasitas buruh tani muda agar bertransformasi menjadi operator dan manajer teknologi profesional seiring tren Green Jobs.
Baca Juga
Kadin, Kementan, dan HKTI Gelar Panen Perdana Benih Kedelai di Lebak untuk Dorong Swasembada
Tahapan Eksekusi dan Orkestrasi Pemangku Kepentingan
Transformasi ini dapat dijalankan secara bertahap:
Fase Fondasi: Penguatan regulasi transisi lahan dan percontohan hub agribisnis tertutup (Closed-Loop Hub).
Fase Akselerasi: Pengembangan unit jasa alsintan pemuda (UPJA) dan logistik RPB di tingkat desa/kecamatan.
Fase Pematangan: Hilirisasi industri agribisnis dan perluasan kawasan sentra secara terpadu.
Keberhasilan akselerasi peta jalan ini pelu ditopang olehsinergi nyata: 1)Pemerintah menyiapkan regulasi dan infrastruktur; 2) Koperasi dan Korporasi Petani bertindak sebagai agregator; 3) Perguruan tinggi memperkuat riset dan vokasi; serta 4) sektor perbankan dan dunia usaha memastikan dukungan pembiayaan serta kepastian pasar.
Program transformasi tersebut dirancang sejak awalmenempatkan komunitas pemuda tani sebagai motor penggerak utamanya.
Penutup
Regenerasi petani adalah kunci utama transformasi ekonomi nasional. Dengan memadukan data empiris, solusi struktural, dan adopsi teknologi melalui enam pilar strategis, tantangan demografi ini dapat diubah menjadi peluang menjaga ketahanan pangan nasional dan memanfaatkan bonus demografi secara produktif menuju Indonesia Emas 2045. ***
Referensi utama: BPS (ST2023), Bappenas, World Bank, IFAD, FAO, McKinsey & Company, serta kajian riset dan pengamat pertanian.
