Ipsos: Kemudahan Mendapatkan Produk Jadi Faktor Penting Pertumbuhan Brand
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Faktor pasar seperti distribusi dan assortment dinilai memiliki pengaruh lebih besar terhadap pertumbuhan brand dibandingkan promosi dan harga di tengah perubahan perilaku konsumen Indonesia yang semakin selektif dalam berbelanja.
Temuan tersebut disampaikan Ipsos Indonesia dalam Ipsos Growth Forum 2026 bertema “The Real Equation of Growth: Brand Equity in Market Context” di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Country Service Line Group Director – Brand Health Tracking & Creative Assessment Ipsos in Indonesia Lioni Halim mengatakan terdapat kesenjangan antara preferensi konsumen terhadap suatu brand dan pangsa pasar yang diraih.
“Pertumbuhan terjadi ketika brand mampu membangun keinginan konsumen terhadap brand tersebut, sekaligus membuat konsumen lebih mudah untuk membeli melalui faktor-faktor pasar yang tepat,” ujar Lioni dalam siaran pers, Jumat (25/9/2026).
Baca Juga
Memahami Kecemasan Lintas Generasi, Ipsos Indonesia Bagikan Tips Praktis Hadapi Tekanan Ekonomi
Menurut dia, konteks pasar berperan dalam mengubah preferensi konsumen menjadi pembelian aktual. Di Indonesia, dampak faktor pasar disebut mencapai tiga kali lipat dibandingkan rata-rata global.
Lioni mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya ketersediaan produk agar konsumen dapat menemukan dan membeli brand dengan mudah.
“Brand yang kuat mampu menciptakan keinginan di benak konsumen. Namun, untuk memenangkan pertumbuhan, brand juga perlu memastikan bahwa konsumen dapat dengan mudah menemukan dan membeli produk tersebut,” katanya.
Sementara itu, kondisi konsumen Indonesia masih dipengaruhi kehati-hatian dalam melakukan pengeluaran. Berdasarkan Ipsos Global Consumer Confidence Index, Consumer Confidence Index Indonesia pada Agustus 2026 berada di level 53,9 dan menempatkan Indonesia di peringkat kelima dari 30 negara yang diukur.
Posisi tersebut meningkat dari peringkat ke-10 pada Juli 2026. Namun, Ipsos mencatat kenaikan peringkat tersebut juga dipengaruhi oleh pelemahan sentimen konsumen di sejumlah negara lain.
Managing Director Ipsos Indonesia Hansal Savla mengatakan perubahan sentimen konsumen perlu menjadi perhatian pelaku usaha dalam memahami keputusan pembelian.
“Kita melihat konsumen Indonesia yang tetap berhati-hati dan selektif dalam membelanjakan uangnya,” ujar Hansal.
Baca Juga
Ipsos Gelar Survey Peta Persaingan Dompet Digital, Ternyata Nama Ini Juaranya
Tekanan biaya hidup juga masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen konsumen. Pada Agustus 2026, sebanyak 81% masyarakat Indonesia menyatakan khawatir terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.
Sementara itu, kekhawatiran terhadap tingkat pengangguran meningkat menjadi 45% pada Agustus 2026, dari 35% pada April 2026.
Ipsos memperkirakan konsumen masih akan berhati-hati dan selektif dalam melakukan pengeluaran hingga akhir tahun. Kondisi tersebut menjadi bagian dari perubahan perilaku yang disebut Ipsos sebagai “The New Consumer Reality.”
Dalam kondisi tersebut, Ipsos menilai pembangunan brand equity tetap diperlukan. Namun, kekuatan brand perlu diikuti faktor pasar yang memungkinkan preferensi konsumen diterjemahkan menjadi pembelian aktual.
Lioni menyebut distribusi dan assortment memiliki pengaruh lebih besar terhadap pertumbuhan dibandingkan promosi dan harga. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan konsumen tidak hanya dipengaruhi oleh preferensi terhadap suatu brand, tetapi juga kemudahan dalam menemukan dan membeli produk.
