Memahami Kecemasan Lintas Generasi, Ipsos Indonesia Bagikan Tips Praktis Hadapi Tekanan Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Fenomena tekanan ekonomi dan kecemasan sosial menjadi sorotan utama dalam pemaparan FWD Consumer Outlook Survey, sebuah riset yang dilakukan FWD Group Holdings Limited (FWD Group) atau FWD yang berkolaborasi dengan Ipsos yang mengkaji kesejahteraan finansial, kekhawatiran, serta kesenjangan perlindungan kalangan kelas menengah Asia di berbagai generasi dan tahap kehidupan.
Dalam sesi tanya jawab, Associate Director Ipsos Indonesia Oscar Simamora mengungkapkan pandangannya mengenai kondisi kelas menengah Indonesia yang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain menghadapi tantangan mental dan finansial yang berbeda di setiap generasinya.
Oscar menyoroti bahwa setiap generasi, mulai dari Gen Z, Milenial (Gen Y), hingga Gen X, memiliki titik kecemasan atau anxiety yang unik. Memahami perbedaan ini menjadi kunci bagi penyedia layanan jasa keuangan dan masyarakat luas untuk menentukan strategi perlindungan yang tepat sasaran sesuai dengan aspirasi masing-masing kelompok umur.
Bagi Generasi Z, Oscar menjelaskan bahwa fokus utama mereka adalah kemandirian finansial dan kesehatan mental. Menurutnya, kelompok ini dikenal memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
"Jadi mereka tuh somehow butuh proteksi, ketika misalnya mereka even apa nggak kerja, itu tetep masih dapat penghasilan duit," ujar Oscar dalam acara Media Briefing FWD Insurance "FWD Consumer Outlook Survey" di Batik Kuring, Kawasan SCBD Park, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Baca Juga
Survei FWD Ungkap 66% Kelas Menengah Indonesia Stres dan Prioritaskan Stabilitas Finansial
Lebih lanjut, Oscar menekankan bahwa bagi Gen Z, kesehatan bukan lagi sekadar urusan fisik yang memerlukan infus atau dokter. "Karena orang atau generasi muda ini itu agak lebih unik gitu ya, karena lebih ngerasa stres, lebih ngerasa pressure ketika kerja, mungkin ada juga salah satu namanya kebutuhan mereka sebenernya lebih ke proteksi dari mentalnya mereka," tambahnya.
Bergeser ke Generasi Y atau Milenial, tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks karena posisi mereka yang sering terjepit di tengah beban keluarga. Tips utama bagi generasi ini adalah mencari solusi yang mampu memproteksi diri dari dilema tanggung jawab ganda. Mereka dituntut untuk melindungi keluarga inti sekaligus memikirkan masa tua mereka sendiri di tengah keterbatasan sumber daya.
"Di mana mereka itu harus cover keluarganya mereka dan bukan cuma immediate keluarganya mereka, ya kan? Karena masih mungkin masih ada orang tuanya sama even I don't know mungkin kakak adiknya gitu ya. Tapi at the same time mereka tuh harus mikirin tentang retirement process-nya mereka gitu ya," ucap Oscar.
Sementara itu, untuk Generasi X, fokus beralih pada aspek pengelolaan kekayaan atau wealth management. Mengingat usia yang lebih senior, kekhawatiran utama mereka adalah penurunan nilai aset akibat inflasi. Oscar menyarankan agar kelompok ini tidak hanya terpaku pada aset kas demi menjaga nilai kekayaan mereka di masa depan.
"Jadi gimana sih caranya supaya mereka nggak kena inflasi secara direct gitu ya. Dan temen-temen misalnya lebih tahu apa lebih ke investasi mau nggak mau, nggak cuma youknow hard cash atau hard money gitu loh karena value-nya akan berkurang," tutup Oscar dalam penjelasannya mengenai strategi bagi Generasi X.
Sebelumnya diberitakan, dari hasil survei, masyarakat kelas menengah di Indonesia saat ini cenderung berada dalam posisi berhati-hati secara finansial, dengan sekitar 66% responden merasa stres, khawatir, atau hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Survei ini melibatkan lebih dari 1.000 responden kelas menengah Indonesia berusia 21–65 tahun melalui survei online yang dilakukan pada Oktober 2025.
Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance Rudy F. Manik mengungkapkan, kondisi ini dipicu oleh kenaikan biaya hidup (70%), ketidakpastian pendapatan (43%), dan tingginya biaya kesehatan (40%), sehingga mendorong masyarakat untuk lebih fokus pada menjaga stabilitas finansial dibandingkan pertumbuhan.
“Kami melihat bahwa masyarakat Indonesia saat ini menghadapi tekanan finansial yang semakin kompleks. Sementara terdapat kecenderungan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan, banyak individu yang belum sepenuhnya siap untuk menghadapi implikasi finansial dari usia hidup yang lebih panjang di tengah meningkatnya biaya kesehatan. Temuan ini menjadi hal yang penting untuk membantu industri dalam menghadirkan solusi yang lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan nasabah," ujar Rudy dalam acara Media Briefing FWD Insurance "FWD Consumer Outlook Survey" di Batik Kuring, Kawasan SCBD Park, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Baca Juga
Agen Asuransi Tumbuh 14%, FWD Insurance Genjot Profesionalisme Lewat MDRT
Rudy menjelaskan, survei ini juga meneliti perbedaan kebutuhan dan perilaku antar generasi, serta bagaimana masyarakat mempersiapkan diri dalam menghadapi risiko finansial di masa depan. Hasil studi menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga responden merasa tertekan secara finansial, khawatir, atau hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, yang terutama dipicu oleh kenaikan biaya hidup, ketidakstabilan pendapatan, dan tingginya biaya kesehatan.
"Setiap generasi menghadapi tekanan dan memiliki prioritas finansial yang berbeda di setiap tahapan kehidupannya. Melalui FWD consumer outlook survey, kami ingin memahami kondisi, kebutuhan, dan kesenjangan perlindungan masyarakat kelas menengah secara lebih mendalam," ungkap Rudy.

