Tawarkan Investasi Wisata Bahari di Monako, Menpar Sebut Pasar Yacht RI Diproyeksi US$ 449 Juta
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pemerintah menawarkan peluang investasi wisata bahari Indonesia kepada investor global di Monako. Pasar yacht Indonesia diproyeksikan tumbuh dari US$261,9 juta pada 2025 menjadi US$449,1 juta pada 2033.
Dalam The 6th Monaco Smart and Sustainable Marina Rendezvous, Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, pertumbuhan tersebut setara dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 7%. Indonesia juga mencatat 127 kedatangan superyacht sepanjang 2025-2026, tertinggi kedua di Asia Pasifik setelah Australia.
“Pasarnya pun terus berkembang. Indonesia telah mencatat 127 kedatangan superyacht pada periode 2025-2026, tertinggi kedua di Asia Pasifik setelah Australia,” kata Menpar dalam keterangan resmi, Rabu (23/9/2026).
Potensi tersebut ditopang pasar wisatawan mancanegara yang terus tumbuh. Pada 2025, kunjungan wisman mencapai 15,4 juta dengan rata-rata pertumbuhan 14,8% per tahun sepanjang 2023-2025.
Data BPS juga mencatat 52,6% wisman pada 2025 melakukan aktivitas wisata bahari selama berada di Indonesia. Kondisi ini membuka peluang pengembangan produk dan layanan berbasis kelautan.
Baca Juga
Kemenpar Dorong ‘Yacht Tourism’ Perkuat Wisata Bahari Indonesia
Namun, kapasitas infrastruktur marina masih terbatas. Indonesia baru memiliki 10 marina dengan total 336 tempat berlabuh, sementara Singapura memiliki lebih dari 1.200 dan Malaysia serta Thailand masing-masing lebih dari 1.400 berths.
Kesenjangan kapasitas tersebut membuka ruang investasi untuk pembangunan marina, penambahan tempat berlabuh, serta layanan pendukung industri yacht. Saat ini terdapat 29 pelabuhan keluar-masuk yacht, dengan 19 di antaranya telah memiliki skema masuk melalui jalur kepabeanan atau duty-free.
Indonesia juga memiliki modal geografis yang besar dengan garis pantai hampir 100.000 kilometer dan sekitar 700 lokasi diving. Potensi wisata bahari tersebar dari Kepulauan Riau, Belitung, Bali, Lombok-Gili Tramena, Labuan Bajo hingga Wakatobi, Raja Ampat dan kawasan timur lainnya.
“Kami mengundang para pengembang dan operator marina, investor yacht, serta para pelaku ekosistem lainnya untuk menjadi bagian dari babak berikutnya dalam pengembangan wisata bahari Indonesia,” kata Widiyanti.
Pemerintah mendorong pembangunan marina berstandar internasional untuk memperluas konektivitas dan kapasitas wisata bahari. Investasi tersebut diharapkan menciptakan multiplier effect bagi ekonomi daerah dengan melibatkan UMKM, operator wisata, transportasi, hospitality, dan masyarakat lokal.
