Studi Cargill: 54% Konsumen RI Beralih ke Pola Makan Rendah Gula
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sebanyak 54% konsumen Indonesia berusaha mengikuti pola makan rendah gula atau low sugar eating pattern. Hal itu berdasarkan studi konsumen Cargill yang disebut Ingredient Tracker sepanjang tahun 2025.
Go-to-Market & Commercial Excellence Leader, Food Solutions Southeast Asia Cargill, Stephanie Sajuti menyatakan, konsumen Indonesia semakin memperhatikan bahan pangan dan informasi yang tercantum dalam produk.
"Sebanyak 54% konsumen berusaha mengikuti pola makan rendah gula (low sugar eating pattern), dan lebih dari 80% bersedia membayar lebih mahal jika produk tersebut lebih sehat," kata Stephanie dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Baca Juga
Cargill Playbook: Mengubah Kekayaan Pangan Menjadi Kekuatan Global
Stephanie menyampaikan, pola makan untuk mengurangi konsumsi gula juga telah diterapkan oleh konsumen di sejumlah negara Asia Pasifik, meski persentasenya berbeda.
Berdasarkan data yang dipaparkan Stephanie, China mencatat 60% konsumen telah menerapkan eating pattern untuk mengurangi konsumsi gula. Sementara Indonesia sebesar 54%, Australia 26%, dan Jepang 11%.
Selain tren pengurangan konsumsi gula, lanjut Stephanie, studi Cargill menemukan 89% konsumen Indonesia cenderung sangat memperhatikan daftar bahan saat membeli suatu produk untuk pertama kali. Adapun studi dilakukan di tiga kota besar Indonesia, yakni Surabaya, Jakarta, hingga Bandung.
Menurut dia, terdapat lima alasan utama konsumen menghindari bahan tertentu. Alasan tersebut, yakni kekhawatiran terhadap bahan sintetis atau artifisial, merasa tidak ada manfaat kesehatan tambahan, ketidakpastian mengenai jenis bahan, kekhawatiran tentang bahan yang dikonsumsi anak-anak, serta masalah alergi atau intoleransi.
Stephanie menuturkan, tren pengurangan gula menjadi salah satu tantangan bagi produsen makanan dan minuman. Sebab, pengurangan gula tidak hanya berkaitan dengan rasa manis.
"Tapi masalahnya, mencabut gula dari sebuah produk itu tidak gampang. Ketika kita menghilangkan gula dari minuman, misalnya teh manis, bukan cuma rasa manisnya yang hilang. Terkadang muncul aftertaste pahit atau asam, rasa menjadi tidak balance, dan mouthfeel-nya hilang," terang dia.
Ia menjelaskan, produsen tidak bisa hanya menghilangkan gula dan menggantinya dengan pemanis lain. Stephanie menilai, pentingnya formulasi ulang secara menyeluruh agar cita rasa produk tetap terjaga meski kandungan gulanya rendah.
"Jadi tidak bisa sekadar cabut gula lalu diganti pemanis lain, harus ada formulasi ulang secara total (total formula). Di situlah kemampuan aplikasi kami bermain, meracik ulang resep agar cita rasanya tetap terjaga walaupun kandungan gulanya sangat rendah," papar dia.
Selain rasa, Stephanie mengatakan, tekstur juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pengembangan produk makanan. "Tekstur memengaruhi kepuasan makan. Bayangkan kalau makan ayam goreng yang coating-nya tidak renyah, atau makan saus yang terlalu encer sehingga tidak menempel di makanan, atau pakai keju yang terlalu keras sampai hancur saat diparut," imbuh dia.
Lebih lanjut, Stephanie mengungkapkan, Cargill membawa sejumlah prototipe produk dalam pameran Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2026 yang berlangsung 16-18 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.
Beberapa prototipe yang dibawa, antara lain minuman fruity tea rendah atau nol gula, minuman meal replacement tinggi protein, berry flavor drink dengan kolagen, serta aplikasi saus dan keju menggunakan modified starch atau pati termodifikasi.
Terpisah, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyatakan, industri makanan dan minuman terus menunjukkan kinerja positif.
Menurut data Kementerian Perindustrian, pada semester I 2026, industri makanan dan minuman tumbuh 6,77% dan memberikan kontribusi sebesar 41,86% terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas.
Baca Juga
Ekspor Bawang Merah Brebes ke Thailand, Menko Pangan Zulhas Dorong Perluasan Pasar Petani
"Capaian menunjukkan industri makanan dan minuman memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan industri nasional dan juga memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan dan meningkatkan daya saing. Untuk mendorong pertumbuhan tersebut, inovasi, dan kolaborasi di sepanjang rantai industri semakin penting untuk dilakukan," kata Faisol saat pembukaan ajang Food Ingredients Asia Indonesia 2026, Rabu (16/9/2026).
Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2026 memasuki penyelenggaraan ke-30 dengan tema "Elevating Food Standards for a Healthier, Greener Future".
Pameran tersebut menghadirkan penyedia bahan baku dan teknologi pangan serta mempertemukan pelaku industri makanan dan minuman dengan pemasok dan calon mitra bisnis.
