PSEL Dikebut, Menko Zulhas Targetkan Separuh Proyek Sampah Darurat Rampung 2027
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk menangani persoalan sampah di sejumlah daerah. Dari sekitar 24–28 proyek yang disiapkan, pemerintah menargetkan separuh proyek PSEL darurat dapat diselesaikan pada 2027 dan sisanya pada 2028.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan proyek PSEL telah dikerjakan di sejumlah wilayah, termasuk Bali, Kota Bekasi, serta Bogor. Namun, Jakarta masih menjadi pekerjaan besar karena persoalan sampah di ibu kota dinilai paling berat.
Baca Juga
Danantara Mulai Groundbreaking Proyek PSEL Bekasi Senilai Rp 3 Triliun, Target Beroperasi 2028
“Ada kira-kira 24 sampai 28 proyek PSEL. Ya, yang sudah kita kerjakan: Bali sudah, Kota Bekasi, kemudian di sini (Bogor), Jakarta belum, padahal Jakarta ini yang paling berat sebetulnya,” kata Zulhas dalam acara Peresmian Pembangunan PSEL Bogor Raya 1, Kamis (17/9/2026).
Menurut dia, pembangunan PSEL yang masuk kategori darurat akan dikebut dalam dua tahap. Sekitar separuh proyek ditargetkan rampung pada 2027, sedangkan separuh lainnya diselesaikan pada 2028. Meski demikian, proyek tersebut baru mencakup 22,5% dari total persoalan yang harus ditangani.
“Kita akan perkirakan separuh kita selesaikan jadi itu di 2027. Separuh lagi di 2028. Ini yang PSEL yang darurat. Dan ini baru menyelesaikan 22,5%. Masih ada 77,5% lagi yang di bawah,” ujarnya.
Untuk PSEL Bogor Raya 1, fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.500 ton sampah per hari. Jumlah itu diperkirakan mampu menangani hampir separuh timbulan sampah Kota dan Kabupaten Bogor, sekaligus menghasilkan listrik dan mengurangi dampak pencemaran lingkungan.
“Kalau ini kan 1.500 (ton). Tadi bisa menyelesaikan hampir separuh sampah di Kota dan Kabupaten Bogor. Akan memberikan listrik hampir 100 rumah, mengurangi polusi luar biasa,” tutur Zulhas.
Pemerintah juga tengah menyiapkan skema untuk menangani timbulan sampah dalam skala lebih kecil, termasuk sekitar 100–200 ton. Menurut Zulhas, penanganan sampah tidak bisa hanya bergantung pada fasilitas berskala besar, tetapi harus dilakukan di sumbernya.
Baca Juga
PSEL Bogor Raya Dimulai, Bima Arya: 4.000 Ton Sampah per Hari Harus Dituntaskan
“Nah, kita ada PR lagi, sedang digodok, agar nanti yang 100 ton, 200 ton juga bisa diselesaikan dengan baik. Di samping setiap tempat itu juga harus menyelesaikan persoalan sampahnya,” sebut dia.
Zulhas menegaskan, pengelolaan sampah harus dilakukan di setiap kawasan sesuai sumber timbulannya, mulai dari pusat perbelanjaan, perkantoran, sekolah hingga pasar. Langkah tersebut menjadi bagian dari target pemerintah untuk mewujudkan Indonesia yang “ASRI” pada 2029, yakni Aman, Sehat, Resik, dan Indah.
