Atasi Darurat Sampah, Danantara Groundbreaking Proyek PSEL Bali Rp 3 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Indonesia resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya di Bali, Rabu (8/7/2026). Proyek strategis bernilai investasi Rp 3 triliun ini menjadi groundbreaking pertama Danantara dalam upaya menjawab darurat pengelolaan sampah nasional melalui program PSEL.
CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan proyek PSEL Bali menggunakan teknologi yang telah teruji di 50 negara. Ia optimistis pembangunan ini dapat berjalan lebih cepat dari target semula.
"Ini adalah groundbreaking pertama di bawah program Danantara. Teknologi yang kita pakai sangat ramah lingkungan, bersih, dan tidak bau. Saya melihat sendiri di China, fasilitas serupa ada di tengah pemukiman elit dan justru jadi tempat rekreasi," ujar Rosan dalam sambutannya di Denpasar, Rabu (8/7/2026), disaksikan melalui kanal Youtube Danantara.
Rosan menambahkan, meski target awal operasional pada 2028, ia mendorong percepatan agar proyek ini tuntas pada akhir 2027.
"Kami berkomitmen dengan tata kelola dan transparansi tertinggi. Kita mulai groundbreaking pertama di Bali, dan insyaallah peresmian operasional pertamanya pun akan di Bali pada akhir 2027," imbuhnya.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menjelaskan secara komprehensif mengenai dampak teknis dan ekonomi dari PSEL Denpasar Raya. Proyek ini dibangun mengacu pada standar lingkungan European Industrial Emission Directive (EU-IED).
"PSEL Bali dirancang untuk mengolah lebih dari 500.000 ton sampah per tahun. Ini artinya, lebih dari 40 persen timbulan sampah di Bali akan terolah di sini," papar Pandu.
Baca Juga
Danantara Umumkan 85 Perusahaan Lolos Seleksi Gelombang Kedua Proyek PSEL
Lebih lanjut, Pandu merinci bahwa proyek ini akan menurunkan emisi sampah di TPA hingga 80 persen dan mengurangi 640.000 ton emisi karbon per tahun. Dari sisi manfaat langsung, energi yang dihasilkan mampu menyuplai listrik untuk sekitar 100.000 rumah tangga di Bali.
"Inisiatif ini bukan sekadar soal sampah, tapi juga lapangan kerja. Kami perkirakan akan tercipta 1.200 lapangan kerja hijau. Kita ingin mewujudkan Indonesia bersih yang dimulai dari Bali," tegas Pandu.
Arahan Presiden: Potong Birokrasi untuk Darurat Sampah
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan proyek ini merupakan perintah langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang sangat perhatian terhadap isu sampah di Bali. Ia menyoroti bagaimana pemerintah melakukan terobosan regulasi untuk mempercepat proyek yang sebelumnya kerap terganjal birokrasi.
"Dulu aturan sampah ini ruwet sekali. Bayangkan, 11 tahun izin yang keluar cuma dua, itu pun batuk-batuk. Sekarang, dengan arahan Bapak Presiden, kita sederhanakan. Masalah sampah yang menggunung dan membuat wisatawan protes ini harus selesai," tegas pria yang akrab disapa Zulhas tersebut.
Baca Juga
Menko Pangan Zulhas Targetkan 25 Lokasi PSEL Rampung pada 2028
Zulhas menyebutkan bahwa PSEL Bali merupakan bagian dari rencana besar pembangunan fasilitas serupa di 34 aglomerasi yang mencakup 70 hingga 80 kota di Indonesia. "Target kita, dalam dua tahun sampah yang darurat ini harus selesai. Kita dukung penuh Danantara untuk memastikan pembangunan ini tepat waktu," pungkasnya.
Pembangunan PSEL Bali diharapkan menjadi model bagi daerah lain di Indonesia dalam mengelola sampah secara modern sekaligus menghasilkan kemandirian energi berbasis energi baru terbarukan (EBT). Proyek ini juga menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan investor global dalam menjaga ekosistem pariwisata Bali yang berkelanjutan.
