Memory Chip Makin Mahal, Sharp Prediksi Harga TV Bisa Naik hingga 8%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Sharp Electronics Indonesia mengungkap adanya potensi kenaikan harga televisi hingga 3-8% sepanjang tahun ini. Kenaikan tersebut salah satunya dipicu oleh melonjaknya harga memory chip yang menjadi salah satu komponen penting dalam produk televisi.
National Sales Senior GM, PT Sharp Electronics Indonesia Andri Adi Utomo menyebutkan kenaikan harga tersebut berlaku pada berbagai ukuran televisi. Bahkan, penyesuaian harga telah dilakukan sebanyak enam hingga tujuh kali sepanjang tahun ini.
“Sekarang kalau ditanya kenaikannya berapa persen, nobody know. Tapi sekitar 3-8%. Ini sudah kenaikan yang ke-6 atau ke-7 selama tahun ini,” ujar Andri kepada awak media di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Menurut Andri, tekanan harga komponen semakin terasa setelah harga memory chip mengalami lonjakan signifikan. Harga satu memory chip yang sebelumnya berada di bawah Rp 2 juta kini disebut telah menembus sekitar Rp 3 juta.
Kenaikan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi industri televisi karena memory chip digunakan pada berbagai ukuran produk. Komponen tersebut antara lain digunakan untuk menyimpan aplikasi Android dan mendukung berbagai fungsi pada televisi pintar.
Tekanan pada Televisi Berukuran Kecil
Menariknya, kenaikan harga komponen tersebut dinilai lebih memberikan tekanan pada televisi berukuran kecil dibandingkan televisi berukuran besar.
Baca Juga
Rela Tambah Biaya Layanan Service, Sharp Bidik Kontribusi Penjualan TV Naik Jadi 25%
“Satu memory dipakai di inci (televisi ukuran) kecil, sama dengan satu memory dipakai di inci gede. Karena memory itu untuk menyimpan aplikasi Android,” jelas Andri.
Dengan harga memory chip yang sama, kontribusi biaya komponen tersebut terhadap harga jual televisi berukuran kecil menjadi relatif lebih besar. Sementara pada televisi berukuran besar, biaya memory chip dinilai tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan nilai keseluruhan unit.
“Ini rugi kalau kita pasang di kecil. Makanya harganya Rp 3 juta lebih. Dulu sempat di bawah Rp 2 juta,” katanya.
Meski menghadapi tekanan biaya komponen, Sharp memastikan kenaikan harga tersebut belum membuat perusahaan mengurangi produksi televisi. Perusahaan memilih melakukan pengelolaan produksi dan pasokan agar pertumbuhan penjualan secara kuantitas tetap terjaga dibandingkan tahun sebelumnya.
“Mengurangi (produksi) enggak. Tapi kita memanage, menjaga supaya setidaknya tetap tumbuh dibandingkan tahun lalu secara kuantitas,” ungkapnya.
Di sisi lain, ia mengakui kenaikan harga televisi belum memberikan dampak signifikan terhadap penjualan. Sebelumnya, pasar televisi masih terbantu momentum Piala Dunia sehingga kenaikan harga tidak terlalu memukul permintaan. Namun, perusahaan masih mencermati kondisi pasar pada periode setelah momentum tersebut berakhir, terutama memasuki Oktober 2026.
“Kalau kemarin kita kenaikan banyak, tidak terlalu berdampak untuk TV karena ada Piala Dunia. Kalau bulan Oktober ini kita tidak tahu,” terang Andri.
