Harga Minyak Dekati US$ 100, Kadin Institute Dorong B50 Jadi Bagian Transformasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kenaikan harga minyak dunia yang mendekati US$ 100 per barel membuat agenda B50 semakin strategis. Kadin Indonesia Institute menilai B50 perlu dilihat bukan hanya sebagai kebijakan energi dan substitusi impor, tetapi sebagai bagian dari transformasi industri sekaligus penguatan neraca pembayaran Indonesia.
Pemerintah memperkirakan implementasi B50 dapat menghilangkan sekitar 18 juta kiloliter impor solar dan menghasilkan penghematan devisa sekitar Rp 170 triliun. Director of Insight Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, mengatakan penghematan tersebut dapat mengurangi sensitivitas Indonesia terhadap perubahan harga minyak dan kebutuhan pembiayaan eksternal.
Baca Juga
Presiden Prabowo: Swasembada Energi melalui B50 Hemat Devisa Rp 170 Triliun
“Selama ini ketika neraca pembayaran tertekan, kita banyak berbicara mengenai bagaimana membawa dolar masuk ke Indonesia. B50 bekerja dari arah sebaliknya, mengurangi kebutuhan dolar untuk keluar sekaligus mengubah sumber daya domestik menjadi kapasitas energi nasional,” ujar Fakhrul, Rabu (9/9/2026).
Menurut Fakhrul, tantangan berikutnya adalah memastikan permintaan domestik yang diciptakan B50 menghasilkan ekosistem industri baru, mulai dari refining, storage, terminal dan blending, hingga logistics, engineering, testing, R&D dan domestic equipment.
“Jangan sampai kita hanya mengganti imported diesel dengan domestic feedstock. Ukuran transformasi industrinya adalah berapa banyak engineering, technology, logistics dan industrial capability baru yang akhirnya dibangun di Indonesia,” sebut dia.
Untuk itu, Kadin Indonesia Institute mendorong penyusunan B50 Industrial Transformation Roadmap yang tidak hanya menetapkan target blending, tetapi juga memetakan pengembangan feedstock, refining capacity, infrastruktur distribusi, kesiapan mesin, domestic equipment hingga advanced biofuels, seperti sustainable aviation fuel (SAF).
Baca Juga
Ekonom Nilai B50 Perkuat Kemandirian Energi, Penghematan Devisa Bisa Dorong Transformasi Ekonomi
Fakhrul menilai implementasi B50 juga perlu memperhatikan sektor pengguna seperti pertambangan, perkebunan, trucking, pelayaran dan industri yang mengoperasikan alat berat. Pemerintah perlu memonitor fuel efficiency, maintenance cost, downtime dan reliability setelah implementasi B50.
“Penghematan devisanya besar, tetapi kita harus memastikan tidak muncul hidden cost berupa kenaikan maintenance, downtime atau penurunan produktivitas. B50 harus dinilai berdasarkan net economic benefit bagi Indonesia,” ujar Fakhrul.
Selain itu, menurutnya, kesiapan logistik juga penting. Peningkatan volume biodiesel membutuhkan kapasitas storage, terminal, transportasi, blending dan quality control yang memadai agar tidak menciptakan bottleneck baru.
