PGE (PGEO) Dorong Panas Bumi untuk Pasok 'Green Data Center' dan AI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menilai energi panas bumi memiliki peran strategis sebagai sumber listrik baseload energi baru terbarukan (EBT) dalam mendukung pertumbuhan pusat data dan ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) serta Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), transformasi digital di Indonesia terus berkembang dan mendorong peningkatan kebutuhan terhadap data center. Kondisi tersebut didukung jumlah pengguna internet yang mencapai 235,26 juta serta keberadaan 185 fasilitas data center yang diproyeksikan masih akan bertambah hingga 2029-2030.
Baca Juga
PGE (PGEO) Kantongi Fasilitas US$ 75 Juta dari Bank Mizuho untuk Proyek Panas Bumi
Direktur Utama PGEO Ahmad Yani mengatakan, kebutuhan listrik untuk pusat data dan AI factory memiliki karakteristik khusus karena membutuhkan pasokan stabil, tersedia selama 24 jam, sekaligus berasal dari sumber energi bersih. Kebutuhan tersebut dinilai sulit dipenuhi oleh sumber energi terbarukan yang memiliki sifat intermiten.
“Pusat data membutuhkan listrik andal dan hijau sekaligus. Panas bumi adalah energi domestik yang bersih dan mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu, sehingga sangat cocok menjadi tulang punggung green data center di Indonesia,” kata Ahmad Yani dalam keterangan resminya, Jumat, (4/9/2026).
Menurutnya, PGEO telah mengambil langkah awal melalui kajian pengembangan elektrifikasi green data center yang memanfaatkan energi panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat. Inisiatif tersebut disiapkan sebagai pilot project sekaligus proof of concept guna menguji model bisnis, memetakan kebutuhan calon pengguna, dan mempersiapkan pasar.
“Untuk mendorong optimalisasi pengembangan data center berbasis EBT (energi baru terbarukan), khususnya panas bumi, terdapat beberapa langkah kunci yang perlu dukungan penuh," kata dia.
Pertama, menyempurnakan regulasi tarif agar lebih kompetitif, transparan, dan predictable. Kedua, memperluas pemanfaatan insentif fiskal dan green financing.
"Ketiga, memperkuat sinkronisasi WKP (wilayah kerja panas bumi), RUPTL (rencana usaha penyediaan tenaga listrik), jaringan, PPA (power purchase agreement), dan target commercial operation date (COD). Keempat, diperlukan penyesuaian strategi dengan kebijakan pemerintah dalam blueprint pengembangan data center sekaligus panas bumi nasional,” terang Ahmad Yani.
Pengembangan elektrifikasi green data center tersebut menjadi bagian dari strategi beyond electricity yang dijalankan PGE. Strategi ini tidak hanya mencakup elektrifikasi green hydrogen, tetapi juga pemanfaatan langsung uap panas bumi serta pengembangan layanan teknologi dan laboratorium.
Melalui strategi tersebut, PGEO berupaya menciptakan sumber permintaan baru terhadap energi panas bumi sekaligus meningkatkan pemanfaatan potensi panas bumi yang selama ini belum terserap secara optimal.
Secara kapasitas, PGEO menargetkan peningkatan kapasitas secara bertahap hingga sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan sekitar 1,8 GW pada 2034. Target tersebut akan didukung portofolio sumber daya sekitar 3 GW serta pipeline proyek yang telah disiapkan secara terukur.
Baca Juga
PGE (PGEO) Raih Penghargaan HKAN 2026 Berkat Konservasi Elang Jawa
Pengembangan panas bumi tersebut juga sejalan dengan agenda pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi. Salah satunya melalui alokasi 5,2 GW kapasitas panas bumi dalam RUPTL. Upaya ini sekaligus mendukung ambisi Indonesia untuk menjadi produsen panas bumi terbesar di dunia pada 2030.
“Terlebih, tahun ini bertepatan dengan 100 tahun perjalanan panas bumi nasional. Ini momentum yang tidak datang dua kali, sehingga harus kita manfaatkan sebaik mungkin untuk mengakselerasi pengembangan kapasitas dan mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai produsen panas bumi terbesar dunia,” tuturnya.
