Tiga Proyek Panas Bumi Masuk Green Book 2026, PGE (PGEO) Kantongi Pendanaan Global Rp 8,6 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE memperoleh dukungan pendanaan internasional setelah tiga proyek strategis panas buminya masuk dalam Green Book 2026 yang diterbitkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas). Masuknya proyek tersebut membuka akses terhadap pembiayaan luar negeri senilai total US$ 477,87 juta atau Rp 8,6 triliun dan menjadi langkah penting dalam percepatan pengembangan energi bersih nasional.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan masuknya proyek-proyek PGEO ke dalam Green Book 2026 menjadi pengakuan atas kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan tantangan ketahanan energi global.
“Kami melihat kinerja positif yang dibukukan perseroan semakin memperkuat kepercayaan berbagai investor terhadap prospek bisnis dan pengembangan proyek-proyek PGE," kata dia dikutip Sabtu (6/6/2026).
Tiga proyek yang masuk Green Book 2026 terdiri atas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW), PLTP Lumut Balai Unit 4 berkapasitas 55 MW, serta PLTP Lahendong Unit 7–8 berkapasitas 50 MW.
Menurut Ahmad Yani, masuknya ketiga proyek tersebut ke dalam Green Book diharapkan membantu perseroan mempertahankan struktur pendanaan yang sehat sekaligus meningkatkan keekonomian proyek dalam jangka panjang.
“Selain membantu menjaga struktur pendanaan yang sehat dan mempertahankan cost of debt yang kompetitif, masuknya ketiga proyek ini juga berpotensi meningkatkan keekonomian proyek sehingga dapat memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perseroan dan para pemangku kepentingan,” kata Ahmad Yani.
Baca Juga
PGE (PGEO) Raih Penghargaan Global atas Inovasi Digital Eksplorasi Panas Bumi
Selain membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional yang dapat mendukung percepatan realisasi proyek, pencapaian ini juga meningkatkan visibilitas dan daya tarik proyek-proyek perseroan di mata calon mitra strategis maupun lembaga pendanaan global.
"Kami optimistis penguatan fundamental bisnis, didukung portofolio proyek yang semakin matang, akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan Perseroan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional,” ujar Ahmad Yani
Pada saat yang sama, kinerja PGEO juga menunjukkan pertumbuhan kuat. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, PGE mencatatkan laba bersih sebesar US$ 43,90 juta atau meningkat 40% dibandingkan US$ 31,35 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan turut meningkat menjadi US$ 116,56 juta dari US$ 101,51 juta pada kuartal I-2025.
Pada 2025, PGE membukukan produksi listrik tertinggi sepanjang sejarah dengan total output mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh), naik 5,55% dibandingkan 4.827 GWh pada 2024. Tren pertumbuhan tersebut berlanjut pada kuartal I-2026 dengan produksi listrik mencapai 1.370 GWh atau meningkat 15,22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendanaan dari JICA dan Bank Dunia
Ketiga proyek PGE yang masuk Green Book tercantum dalam skema on-lending melalui pembiayaan concessional loan atau pinjaman lunak yang menawarkan tingkat bunga lebih rendah dan tenor lebih panjang dibandingkan pembiayaan komersial.
Total nilai pinjaman mencapai US$ 477,87 juta. Dana tersebut terdiri atas pembiayaan US$ 158,86 juta untuk PLTP Lumut Balai Unit 3 dari Japan International Cooperation Agency (JICA), US$ 148,97 juta untuk PLTP Lumut Balai Unit 4 dari JICA, serta US$ 170,04 juta untuk PLTP Lahendong Unit 7–8 dari Bank Dunia.
Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari roadmap pengembangan panas bumi PGE menuju kapasitas 3 gigawatt (GW). Setelah beroperasi, proyek-proyek tersebut akan meningkatkan pasokan listrik rendah emisi sekaligus memperkuat kontribusi energi panas bumi dalam bauran energi nasional.
PLTP Lumut Balai Unit 3 dan Unit 4 yang berlokasi di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan, akan memperluas pengembangan panas bumi PGE di wilayah Sumatra. Kedua proyek tersebut telah mengantongi power purchase agreement (PPA) atau perjanjian jual beli listrik, sementara Lumut Balai Unit 4 juga telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.
Baca Juga
Laba PGE (PGEO) Melejit 40% Ditopang Margin Tinggi dan Kenaikan Produksi
Di Sulawesi Utara, pengembangan PLTP Lahendong Unit 7–8 dan Binary Unit di Kabupaten Minahasa diproyeksikan meningkatkan kontribusi PGE terhadap pemenuhan kebutuhan listrik wilayah tersebut dari sekitar 30% menjadi 35% hingga 40%.
Green Book 2026 yang secara resmi bernama Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026 merupakan daftar proyek nasional yang telah memperoleh komitmen pendanaan luar negeri melalui koordinasi Pemerintah Indonesia dengan berbagai mitra pembangunan internasional. Daftar tersebut disusun berdasarkan Keputusan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor Kep.52/M.PPN/IIK/06/2026.
Sebelum masuk Green Book, proyek-proyek tersebut telah tercantum dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah Tahun 2025–2029 atau Blue Book Bappenas. Status tersebut menunjukkan proyek telah memenuhi berbagai persyaratan teknis, finansial, lingkungan, dan kelembagaan yang dibutuhkan untuk melanjutkan proses implementasi.

