Proyek Tambak Udang Terintegrasi Waingapu Senilai Rp 7,2 Triliun Beroperasi 2028, Serap 7.000 Tenaga Kerja
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah terus mengakselerasi pembangunan proyek Tambak Udang Terintegrasi (Integrated Shrimp Farming/ISF) di Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Proyek bernilai investasi US$ 500 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun tersebut ditargetkan rampung pada 2027 dan beroperasi penuh pada awal 2028.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, menyampaikan bahwa kawasan industri udang terpadu ini diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung pasokan udang nasional, baik untuk kebutuhan domestik maupun komoditas ekspor.
"Ketika beroperasi penuh, ISF Waingapu ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 52.800 ton udang per tahun, yang akan menambah pasokan udang nasional sekaligus memperkuat pemenuhan kebutuhan pasar domestik dan ekspor," ujar Qodari dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Proyek ISF Waingapu dibangun di atas lahan seluas 2.150 hektare, dengan area seluas 1.361 hektare dialokasikan khusus untuk kolam budi daya dan fasilitas pendukung. Penempatan proyek strategis di Sumba Timur ini dirancang sebagai langkah nyata pemerintah mendorong pemerataan pembangunan di NTT.
Hingga 29 Juli 2026, progres pembangunan fisik tercatat telah mencapai 10 persen dengan pengerjaan yang didukung lebih dari 300 unit alat berat serta keterlibatan tenaga kerja lokal.
Baca Juga
Tambak Terintegrasi Waingapu Diproyeksi Serap 7.000 Tenaga Kerja
Investasi Rp 7,2 triliun ini mencakup pembangunan jaringan intake, kolam budi daya, tandon, fasilitas karantina, jalan produksi, hingga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) klaster dan IPAL utama.
Qodari menjelaskan bahwa manfaat proyek ini tidak hanya berhenti pada peningkatan produksi perikanan, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru di wilayah timur Indonesia.
"ISF Waingapu diproyeksikan menyerap sekitar 7.000 tenaga kerja di sepanjang rantai industri, mulai dari hulu, produksi (on-farm), hingga hilir. Sebanyak 3.000 tenaga kerja lokal di antaranya akan mendapatkan pelatihan khusus," jelasnya.
Pertumbuhan rantai ekonomi baru di Sumba Timur dipastikan terpacu melalui hadirnya berbagai industri pendukung, seperti pembenihan (hatchery), pabrik pakan, cold storage, pabrik es, pengolahan udang, hingga sektor transportasi.
Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan dan protein nasional berbasis pemberdayaan masyarakat desa dan pesisir.
