Insentif Kendaraan Listrik NMC Dinilai Perkuat Hilirisasi Nikel RI
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pemerintah menyiapkan insentif bagi kendaraan listrik berbasis baterai nickel-manganese-cobalt atau NMC untuk memperkuat hilirisasi nikel dan pengembangan industri baterai nasional. Kebijakan ini dapat membuka pasar domestik bagi baterai berbasis nikel sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri.
Project Coordinator Entrev Eko Adji Buwono menilai insentif tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai mengarahkan hilirisasi nikel menuju industri manufaktur dengan nilai tambah lebih tinggi.
"IBC (Anggota Holding Grup MIND ID) saat ini merupakan satu-satunya perusahaan milik pemerintah yang mendapat mandat membangun dan mengembangkan industri baterai berbasis nikel. Tentunya tanpa didukung kebijakan yang memberikan prioritas terhadap baterai berbasis nikel untuk digunakan di dalam negeri, akan sulit berkompetisi dengan baterai berbasis lithium iron phosphate (LFP)," ujar Eko dikutip Kamis (27/8/2026).
Baca Juga
Mobil Listrik Makin Banyak, DPR Soroti Kesiapan Penanganan Kebakaran di Jalan Tol
Indonesia Battery Corporation (IBC) merupakan perusahaan yang mendapat mandat untuk mengembangkan ekosistem industri baterai nasional. IBC berada dalam ekosistem holding pertambangan MIND ID dan menjadi bagian penting dalam pengembangan rantai pasok baterai berbasis nikel di Indonesia.
Menurut Eko, dukungan kebijakan menjadi penting karena Indonesia telah menanamkan investasi untuk membangun rantai pasok baterai dari sektor pertambangan, pengolahan mineral, hingga manufaktur sel baterai.
"Sudah ada berbagai perhitungan mengenai dampak berlipat dari hilirisasi industri baterai. Yang paling nyata adalah peningkatan nilai tambah mineral, penciptaan lapangan kerja, serta pengurangan impor baterai maupun impor BBM seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik," kata Eko.
IBC melalui pabrik baterai kendaraan listrik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang telah memiliki kapasitas produksi tahap awal sebesar 6,9 GWh. Kapasitas tersebut menjadi salah satu fondasi pengembangan pasokan baterai untuk memenuhi kebutuhan kendaraan listrik di dalam negeri.
Eko menilai keberadaan industri dari hulu hingga hilir dapat menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas. Aktivitas tersebut berpotensi menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, serta mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan menyiapkan insentif bagi kendaraan listrik berbasis baterai NMC sebagai bagian dari strategi memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional.
Bahlil menyebut kendaraan listrik berbasis nikel menjadi salah satu prioritas karena Indonesia memiliki sumber daya nikel yang besar dan sedang membangun industri baterai berbasis NMC.
Menurut dia, baterai NMC memiliki keunggulan untuk kendaraan dengan kebutuhan jarak tempuh lebih jauh dibandingkan baterai LFP. Namun, biaya produksi baterai berbasis nikel relatif lebih tinggi.
Perbedaan karakteristik tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menyusun kebijakan insentif kendaraan listrik. Pemerintah juga melihat kebutuhan untuk memastikan investasi industri baterai berbasis nikel yang telah dibangun mendapatkan pasar domestik.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan insentif kendaraan listrik yang ditargetkan mencakup masing-masing 100.000 unit mobil listrik dan 100.000 unit sepeda motor listrik pada tahun ini.
Untuk sepeda motor listrik, pemerintah mengalokasikan insentif sebesar Rp 5 juta per unit. Sementara itu, untuk mobil listrik pemerintah menyiapkan skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atau PPN DTP sebesar 40% hingga 100%.
Baca Juga
Tanggapi Insentif Motor Listrik Turun Jadi Rp 3 Juta, Wamenperin Sebut Kuota Berpeluang Ditambah
Persaingan NMC dan LFP
Baterai NMC menggunakan kombinasi nikel, mangan, dan kobalt sebagai material utama katodanya. Teknologi ini banyak digunakan untuk kendaraan listrik yang membutuhkan kepadatan energi tinggi dan jarak tempuh yang lebih panjang.
Sementara itu, LFP menggunakan lithium, besi, dan fosfat. Teknologi tersebut memiliki karakteristik biaya produksi yang relatif lebih rendah dan tidak bergantung pada nikel sebagai material utama.
Perbedaan teknologi tersebut membuat persaingan NMC dan LFP tidak hanya berlangsung di tingkat teknologi, tetapi juga menyangkut struktur biaya dan strategi industri. Bagi Indonesia, pilihan kebijakan menjadi penting karena negara memiliki basis sumber daya nikel sekaligus sedang membangun kapasitas manufaktur baterai.
Eko menilai tanpa dukungan pasar domestik, industri baterai berbasis nikel akan menghadapi tantangan lebih besar ketika harus bersaing dengan teknologi LFP yang memiliki struktur biaya berbeda.
