Ikuti Zaman, Hippindo Ingatkan Ritel 'Offline' Wajib Adaptasi AI
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengingatkan pelaku ritel offline untuk mempercepat adaptasi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Perubahan teknologi dan perilaku konsumen membuat cara berjualan ikut berubah.
Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah mengatakan, teknologi telah mengubah cara industri ritel menjalankan bisnis. Menurutnya, ritel offline harus bertransformasi agar tetap mampu bersaing.
Baca Juga
Surplus Perdagangan dengan UEA US$ 1,63 Miliar, Mendag Ingin Pemanfaatan IUAE-CEPA Makin Agresif
“Teknologi berkembang sangat cepat, perilaku konsumen berubah, dan cara kita berjualan pun harus ikut berubah. Seperti industri otomotif yang kini bergerak dari kendaraan berbahan bakar konvensional menuju kendaraan listrik, industri ritel juga harus terus bertransformasi agar tidak tertinggal,” ujarnya di acara Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE) 2026, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Budi mengatakan, perkembangan AI, algoritma, dan digitalisasi menjadi bagian penting dalam transformasi ritel. Teknologi tersebut kini mulai mengubah pengelolaan bisnis hingga cara peritel menjangkau konsumen.
Lewat IRSE 2026, Hippindo juga mempertemukan pelaku industri untuk mempelajari berbagai teknologi tersebut. Pameran itu menampilkan penerapan AI, algoritma, digitalisasi, serta inovasi dalam cara berjualan melalui kanal offline maupun online.
Menurut Budi, transformasi teknologi juga diperlukan untuk menjaga pertumbuhan sektor ritel di tengah perubahan perilaku konsumen. “Jadi retail modern, pengertian retail modern ini Hippindo sangat concern bahwa saat ini kalau kita melihat teknologi sudah sangat maju, jadi cara-cara menjual harus berubah,” katanya.
Penguatan kompetensi
Di sisi lain, Ketua Pelaksana IRSE 2026 sekaligus Sekretaris Jenderal Hippindo, Haryanto Pratantara mengatakan, investasi kompetensi tidak boleh dipangkas meski perusahaan tengah mengejar efisiensi.
“Di tengah kondisi ekonomi saat ini, semua perusahaan berbicara tentang efisiensi. Namun, ada satu investasi yang tidak boleh dipangkas, yaitu investasi pada kompetensi,” ujar Haryanto.
Baca Juga
Haryanto menambahkan IRSE menjadi ruang bagi pelaku ritel untuk memperluas wawasan dan menemukan strategi baru. Adaptasi teknologi dan kemampuan membaca kebutuhan konsumen dinilai menjadi kunci agar bisnis ritel mampu bertahan dan berkembang.
Selain transformasi digital, Hippindo juga mendorong penguatan ekosistem ritel nasional. Dari sekitar 800 merek dalam ekosistem HIPPINDO, sekitar 500 di antaranya merupakan merek nasional yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
