Risiko Geopolitik Tekan Pelaporan Keuangan, Auditor Diminta Perketat Pengawasan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Risiko geopolitik global kini menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas pelaporan keuangan dan proses audit perusahaan Risiko geopolitik global kini menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas pelaporan keuangan dan proses audit perusahaan. Konflik internasional, perang dagang, perubahan tarif, sanksi ekonomi hingga gangguan rantai pasok dinilai berdampak langsung terhadap kondisi fundamental dan keberlangsungan bisnis.
Managing Partner KAP Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan Rekan sekaligus Head of Audit & Assurance Services BDO Indonesia, Indra S. Widodo, mengatakan perusahaan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak risiko geopolitik terhadap estimasi akuntansi dan laporan keuangan.
“Risiko geopolitik kini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata oleh entitas bisnis. Dampak sistemiknya terhadap stabilitas rantai pasok dan volatilitas pasar mengharuskan manajemen untuk melakukan penilaian yang jauh lebih komprehensif terhadap estimasi akuntansi,” ujar Indra dalam keterangan tertulis, Rabu (26/8/2026).
Menurut Indra, risiko geopolitik dapat memengaruhi bisnis melalui gangguan rantai pasok, kenaikan harga energi dan bahan baku, fluktuasi nilai tukar dan suku bunga, pembatasan perdagangan, tarif impor, sanksi ekonomi, hingga peningkatan ancaman keamanan siber.
Dampak tersebut kemudian dapat memengaruhi proyeksi arus kas, profitabilitas, estimasi akuntansi, serta kemampuan perusahaan mempertahankan kelangsungan usaha (going concern).
Baca Juga
Kebakaran Auditorium Kampus Binus Kemanggisan Padam, Perkuliahan Dialihkan Daring
Enam Area Pelaporan Jadi Perhatian
Indra menjelaskan terdapat sejumlah area penting dalam laporan keuangan yang perlu mendapat perhatian lebih besar di tengah ketidakpastian geopolitik.
Pertama, penurunan nilai aset (impairment). Perusahaan perlu memperbarui asumsi terkait pertumbuhan, discount rate, inflasi, dan permintaan pasar untuk mengantisipasi potensi penurunan nilai goodwill, aset tetap, aset tak berwujud, maupun investasi.
Kedua, kelangsungan usaha (going concern). Gangguan pasokan, pelemahan permintaan, dan kenaikan biaya pendanaan dapat meningkatkan keraguan terhadap kemampuan perusahaan untuk mempertahankan operasionalnya.
Ketiga, persediaan. Gangguan logistik berpotensi meningkatkan biaya penyimpanan, memicu barang usang, menurunkan nilai realisasi bersih (net realizable value/NRV), serta mengubah pola permintaan.
Keempat, instrumen keuangan. Volatilitas pasar meningkatkan risiko terkait Expected Credit Loss (ECL), pengukuran nilai wajar (fair value measurement), likuiditas, dan risiko kredit.
Kelima, transaksi valuta asing. Perubahan nilai tukar dapat berdampak terhadap transaksi mata uang asing, translasi laporan keuangan, aktivitas lindung nilai (hedging), hingga penentuan functional currency.
Keenam, pengungkapan (disclosure). Investor membutuhkan informasi yang transparan mengenai dampak risiko geopolitik terhadap operasional, asumsi manajemen, sensitivitas estimasi, serta strategi mitigasi perusahaan.
Baca Juga
BPJPH Ungkap Minimnya Auditor Halal Berbahasa Inggris Hambat Impor 650.000 Ton Daging dari Australia
Auditor Perlu Tingkatkan Skeptisisme
Di sisi audit, Indra menilai auditor perlu menyesuaikan penilaian risiko dengan perubahan kondisi bisnis yang berlangsung cepat. Pengujian tambahan terhadap area impairment, persediaan, dan going concern menjadi penting untuk memastikan kecukupan bukti audit.
Auditor juga perlu mengevaluasi subsequent events hingga tanggal penyelesaian laporan auditor serta meningkatkan professional skepticism dalam menilai asumsi dan estimasi yang digunakan manajemen.
“Bagi auditor, kondisi ini menuntut penerapan pendekatan audit berbasis risiko yang lebih ketat serta pemeliharaan skeptisisme profesional yang tinggi dalam memastikan kelangsungan dan transparansi perusahaan,” kata Indra.
Sementara itu, Komite Audit dan Direksi juga dituntut memastikan seluruh risiko geopolitik material telah diidentifikasi dan tercermin dalam penyusunan laporan keuangan. Perusahaan perlu memperbarui asumsi, melakukan scenario analysis dan stress testing, serta memperkuat pengendalian internal dan manajemen risiko.
Menurut Indra, dinamika geopolitik kini telah berkembang menjadi faktor eksternal yang semakin dominan dalam menentukan kualitas pelaporan keuangan. Karena itu, kemampuan perusahaan melakukan mitigasi dan respons auditor melalui pendekatan risk-based audit menjadi penting untuk menjaga kredibilitas, transparansi, dan keandalan laporan keuangan.
