Kemenpar Pastikan Pariwisata Labuan Bajo Kembali Normal Pascagempa NTT
JAKARTA, Investortrust.id - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memastikan aktivitas pariwisata di Labuan Bajo kembali berjalan normal setelah gempa bumi mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Pemantauan dampak gempa di sejumlah destinasi Floratama masih dilanjutkan untuk memastikan keselamatan wisatawan.
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) bersama pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata terus melakukan pendataan. Pemantauan mencakup destinasi wisata, akomodasi, transportasi, hingga fasilitas pendukung pariwisata.
Baca Juga
Tak Hadir di Istana, Sejumlah Menteri Prabowo Upacara HUT RI di Lokasi Terdampak Gempa NTT
Aktivitas di Pelabuhan Marina Labuan Bajo juga telah kembali berjalan normal. Pada 16 Agustus 2026, KSOP Kelas III Labuan Bajo mencatat 308 kapal wisata berangkat dengan total 3.651 penumpang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.840 merupakan wisatawan mancanegara dan 811 wisatawan nusantara. Akses pelayaran menuju Taman Nasional Komodo juga telah kembali dibuka setelah dinyatakan memungkinkan oleh otoritas pelabuhan.
Pada hari yang sama, tercatat sekitar 1.381 wisatawan mengunjungi Padar Selatan, 328 wisatawan ke Loh Liang Pulau Komodo, 277 ke Loh Buaya Pulau Rinca, dan 54 wisatawan ke Gili Lawa. Seluruh wisatawan kemudian kembali ke Labuan Bajo dan beraktivitas normal di kawasan Waterfront Marina.
Plt Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung mengatakan, pemulihan aktivitas pariwisata tidak terlepas dari koordinasi lintas pihak.
“Pulihnya aktivitas pelayaran dan kunjungan ke Taman Nasional Komodo dalam waktu singkat tidak terjadi dengan sendirinya,” kata Andhy dalam keterangan resmi, Senin (17/8/2026).
Meski aktivitas di Labuan Bajo kembali normal, sejumlah destinasi di wilayah Floratama masih ditutup sementara. Di Manggarai, misalnya, Wae Rebo, Nuca Molas, Kampung Todo, Ruteng Pu’u, dan Liang Bua ditutup sebagai langkah mitigasi karena gempa susulan masih berlangsung.
Dampak juga ditemukan di sejumlah fasilitas pariwisata di Manggarai Barat, Ngada, Ende, Sikka, dan Nagekeo. Kerusakan antara lain terjadi pada akomodasi, fasilitas destinasi, pelabuhan, hingga infrastruktur pendukung, sementara pendataan di beberapa wilayah masih terkendala jaringan komunikasi.
Baca Juga
Menkeu Siap Berikan Dukungan Pembiayaan Penanganan Bencana Gempa NTT
Andhy menegaskan keselamatan wisatawan menjadi dasar setiap keputusan pembukaan maupun penutupan destinasi. “Tidak ada destinasi yang dibuka sebelum dinyatakan aman. Penutupan sementara adalah langkah mitigasi, bukan penghentian aktivitas pariwisata,” tutupnya.
BPOLBF menyatakan pendataan dampak gempa akan terus diperbarui selama masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemerintah Provinsi NTT pada 15-28 Agustus 2026. Informasi mengenai kondisi destinasi, transportasi, akomodasi, dan aksesibilitas akan disampaikan berdasarkan hasil verifikasi lapangan.

