BRT Mastran Diperluas ke Semarang dan Surabaya, Ini Progresnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melanjutkan pengembangan proyek bus rapid transit (BRT) melalui skema Master Plan for Urban Transport (Mastran) setelah implementasi di Cekungan Bandung, Jawa Barat dan Medan-Binjai-Deli Serdang (Mebidang), Sumatra Utara. Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan detailed engineering design (DED) untuk proyek serupa di Semarang dan Surabaya.
"Yang dua kota kan sudah diresmikan, Bandung sama Medan. Nah ada dua kota lagi, Semarang dan Surabaya, itu di tahap preparation DED-nya tahun ini juga," kata Direktur Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat) Kemenhub Muiz Thohir di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, kegiatan Mastran mencakup pembangunan fisik di Medan dan Bandung, serta penyiapan DED untuk Semarang dan Surabaya. Namun, kata Muiz, pemerintah belum menetapkan target pembangunan fisik maupun peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk proyek di Semarang dan Surabaya karena saat ini baru memasuki tahap penyusunan DED.
"Memang ini baru penyiapan DED-nya saja. Pembiayaan untuk pembangunan sih belum ya," ujar dia.
Baca Juga
Operasional Layanan BRT Transjakarta Sudah Normal Mulai Minggu Siang Ini
Bahkan, Muiz mengungkap, ada sejumlah tawaran pembiayaan dari bank pembangunan dan investasi dari Jerman, yakni Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW).
Meski demikian, Muiz menegaskan, Kemenhub masih ingin memastikan implementasi proyek di Bandung dan Mebidang berjalan dengan baik sebelum melanjutkan pembangunan di kota lain. "Kami dari pemerintah sebetulnya ingin memastikan dulu dua kota ini berjalan dengan baik," tegas dia.
Sementara itu, terkait penyelesaian proyek Mastran di Bandung dan Mebidang, Muiz mengatakan, penutupan pinjaman (loan closing) dijadwalkan pada Juni 2027 sehingga proyek diharapkan selesai pada periode tersebut. "Sebelumnya kita kan closing loan-nya itu kan di Juni 2027 sebenarnya. Jadi diharapkan selesai," tutur dia.
Meski demikian, ia menuturkan, masih terdapat pekerjaan yang berkaitan dengan pengembangan Intelligent Transportation System (ITS) yang masih dalam proses. Apabila pekerjaan tersebut belum rampung hingga batas waktu pinjaman, pemerintah membuka opsi untuk memperpanjang masa pinjaman. "Kalau itu diasumsikan belum selesai, nanti mungkin ada juga kita opsi untuk memperpanjang loan-nya," tutur Muiz.
Proyek Mastran di Cekungan Bandung dan Mebidang mendapatkan pinjaman sebesar US$ 264 juta atau Rp 4,73 triliun (asumsi kurs Rp 17.911 per dolar AS) dari Bank Dunia dan Agence Française de Développement (AFD). Adapun proyek BRT Cekungan Bandung menelan investasi sebesar Rp 1,3 triliun yang memiliki panjang jalur sekitar 21 kilometer (km) dengan enam depo armada (Cicaheum, Leuwipanjang, Padalarang, Soreang, Cimenyan/Ciburuy, dan Majalaya), 34 halte on-corridor, 719 halte off-corridor, hingga pengadaan sistem kecerdasan buatan (Intelligent Transport System/ITS).
Sedangkan proyek BRT Mebidang telah dimulai secara bertahap sejak pencanangan halte percontohan pada Agustus 2024.
Baca Juga
Siap Ubah Wajah Transportasi Sumut, Proyek BRT Mebidang Ditarget Beroperasi 2027
BRT Mebidang direncanakan melayani 12 rute pada tahap awal operasional. Sebanyak 10 rute berada di wilayah Kota Medan, sedangkan dua rute lainnya dikelola oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Utara (Pemprov Sumut) bekerja sama dengan Kemenhub. Dua rute yang berada di bawah pengelolaan Pemprov Sumut, yakni Binjai–Medan–Carrefour serta Lubukpakam–Amplas–Simpang Pelangi.
Sistem BRT Mebidang akan didukung hingga 273 unit armada dengan waktu tunggu (headway) sekitar 15 menit, dilengkapi teknologi Intelligent Transport System (ITS) dan Area Traffic Control System (ATCS).
Lebih jauh, uji coba BRT Mebidang akan dimulai pada 18 Agustus 2026 dengan tiga unit bus terlebih dahulu di rute Medan–Terminal Lubuk Pakam dan Medan–Terminal Ikan Paus.
