Pengembangan Sistem Transportasi Massal BRT di Medan dan Bandung Rampung 2027
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menargetkan penyelesaian program Pengembangan Sistem Angkutan Umum Massal (Mastran) pada 2027.
Proyek ini bertujuan untuk membangun sistem transportasi massal perkotaan yang inklusif dan terintegrasi. Adapun program Mastran yang tengah dikembangkan di Medan-Binjai-Deli Serdang (Mebidang) dan Bandung saat ini adalah sistem bus rapid transit (BRT) seperti di Jakarta.
“Program yang pendanaannya didukung Bank Dunia dan Agence Française de Développement ini, penting dalam mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dari menggunakan transportasi pribadi ke transportasi umum di kota metropolitan, seperti di Medan dan Bandung yang menjadi lokasi pengembangan pilot project BRT,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) Kemenhub Irjen (Purn) Aan Suhanan dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (17/6/2025).
Baca Juga
Pemerintah Serius Ajak Swasta Tanam Modal Rp 2.166 Triliun untuk Bangun Transportasi
Mastran Project didukung oleh pendanaan dari Bank Dunia dan Agence Française de Développement (AFD) dengan nilai pinjaman sebesar US$ 264 juta atau Rp 4,3 triliun (asumsi kurs Rp 16.260 per dolar AS).
Dirjen Aan menjelaskan, program pengembangan Mastran telah berjalan sejak 2022, tetapi sempat mengalami keterlambatan selama 3 tahun. Sejak pinjaman proyek dinyatakan efektif pada 13 Oktober 2023, sejumlah kemajuan telah dicapai, seperti penandatanganan nota kesepakatan dengan wilayah Metropolitan Mebidang pada 16 Oktober 2023 dan wilayah Cekungan Bandung pada 7 Maret 2024.
“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kesiapan dan kepemimpinan yang telah ditunjukkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Barat, serta pemerintah daerah di Metropolitan Mebidang dan Cekungan Bandung,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, proyek ini akan diperluas ke tujuh kota lainnya sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
“Sesuai RPJMN yang sudah ada, saya berharap melalui kegiatan Mid Term Review (MTR) Mission Mastran Project ini, kita bisa mengevaluasi, bisa merencanakan ke depannya, dokumen-dokumen apa saja yang harus dipersiapkan untuk mempercepat proses proyek ini,” jelas Aan.
Direktur Angkutan Jalan sekaligus Ketua Project Implementation Unit (PIU) Mastran Muiz Thohir menyampaikan, progres pengembangan Mastran, di antaranya lelang (tender) kegiatan konstruksi untuk wilayah Mebidang yang telah berlangsung, sementara wilayah Cekungan Bandung masih dalam tahap persiapan.
“Capaian saat ini telah dilaksanakan tender untuk paket kegiatan konstruksi Mebidang, sementara paket kegiatan konstruksi Cekungan Bandung masih dalam persiapan tender. Adapun paket ITS (Intelligent Transport System) saat ini dalam tahap finalisasi dokumen lelang dan tahap finalisasi dokumen lelang dan akan menyusul setelah kegiatan infrastruktur berjalan, ini direncanakan Januari 2026,” kata Muiz.
Baca Juga
Pemda Bengkulu Ingin Bangun Sarana Transportasi Logistik ke Pelabuhan Baai, Begini Rencana Kemenhub
Muiz juga memaparkan, total nilai proyek mencapai US$ 264 juta dan diproyeksikan akan terserap sepenuhnya hingga akhir 2026.
“Kita juga menyadari beberapa indikator project development objectives (PDO) dan intermediate results (IR) belum sepenuhnya on-track, seperti penyerapan anggaran untuk kegiatan konstruksi, pemenuhan komitmen APBD daerah, serta evaluasi awal terhadap kualitas layanan publik. Kami yakin total pinjaman senilai US$ 264 juta akan terserap semua di akhir 2026 ini,” jelasnya.
Ditjen Perhubungan Darat juga menyiapkan alternatif pembiayaan seperti skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) serta cost-sharing antara APBN dan APBD untuk pengadaan armada bus.
Berikut detail pengembangan sistem BRT dalam proyek Mastran:
Wilayah Mebidang: 527 unit bus, 21 km jalur khusus, 32 stasiun BRT, dan 448 halte.
Cekungan Bandung: 579 unit bus, 21 km jalur khusus, 34 stasiun BRT, dan 768 halte di luar koridor utama.

